5-March-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (3)

posted by Wawan Gunawan
CATATAN PANDU RADEA
TAK ADA ROTAN DAUN PUN JADI !
Masalah yang membenam dalam benak adalah bahwa kami tidak akan bisa pentas jika peralatan kami tidak segera ditemukan. Sejak bangun tidur Wawan Ajen terus melakukan kontak ke berbagai pihak. Parahnya lagi, selama di hotel, kami tidak di sertai oleh guide  yang disediakan panitia, tentu saja kondisi tersebut membuat kami sakaparan-paran.  Kendati fasilitas hotel sangat berkelas, ditambah akomodasi maupun konsumsi ditanggung panitia, tetap saja membuat kami kebingungan. Pasalnya, diantara kami berempat, hanya saya yang memiliki mata uang Euro. Itupun hanya 60 euro.
Jelas tidak akan cukup untuk menutupi kepentingan darurat.  Kendati kondisi hotel refresentatif namun kelemahanya tidak ada jaringan internet bebas (wi-fi). Yang ada justru warnet local yang dikelola hotel. Dan untuk ngenet setengah jam lamanya menghabiskan 5 euro (1 euro jika dirupiahkan sekitar 15 ribu). Padahal hubungan melalui internet sangat kami butuhkan untuk mengecek dimana keberadaan peralatan kami.
Sembari menunggu infomasi, akhirnya kami membuat rencana darurat. Jangan sampai kami gagal manggung. Selain membuat kecewa panitia juga untuk tetap menjaga nama baik Indonesia. Berawal dari keisengan saya yang selalu tertarik dengan daun kering. Akhirnya saya kumpulkan beberapa helai daun untuk membuat alat music sederhana, akhirnya, Wawan Ajen melihat beberapa jenis daun dapat dibuat wayang. Dan timbul ide membuat wayang dari daun kering.
Wawan Ajen yang memiliki keterampilan membuat wayang dari ilalang segera bereksperimen membuat tokoh Rahwana dan hanoman. Sedangkan saya membuat Rama dan Sinta. Tavif membuat Jatayu dan Dodong Kodir sibuk kesana kemari mencari sampah untuk didaur ulang menjadi Alat music. Yang sukses bereksperiman hanya bertiga. Sementara Dodong Kodir terpaksa menghentikan upayanya. Bukannya  tidak mampu, justru kelebihan seniman tua ini adalah mengolah sampah apapun menjadi alat music. Dodong terpaksa menyerah karena di sekitar hotel bahkan sampai pinggir jalan raya, tidak ada sampah yang ditemukan.
Inilah kontradiktif kedua antara Tenarife dan kota-kota wisata di Indonesia. Yaitu tentang Sampah. Di Tenarife tidak ada sampah yang berserakan. Sedangkan di Indonesia, sampah sangat merajalela.  Entah dimana para petugas sampah di Tenarife itu menimbun limbah manusia. Jika saja Dodong Kodir bisa berbahasa spanyol tentu masalah itu bisa selesai dengan bertanya kepada petugas hotel. Sayangnya bahasa Inggris petugas hotel umumnya jelek (apalagi kami) sehingga dialogpun sering salah tafsir. Hasilnya tentu saja miss understanding.
untungnya, Dodong segera mengalihkan sampah dengan sampah pohon. Beberapa alat music dapat diciptakan. Kendatii sederhana, namun untuk sementara dianggap dapat mewakili ketukan wayang.  Semua kegiatan kami, dilakukan di jembatan kecil yang menghubungkan setiap ruangan dan bangunan hotel. otomatis, gerak-gerik kami menjdi perhatian tamu-tamu lainnya. Apalagi kami selalu menyapa tamu yang lewat dengan kata “Ola” yang membuat mereka tersenyum dengan keramahan kami, dan akhirnya memperhatikan kegiatan kami.

Saat mereka melihat Wawan Ajen memainkan wayang daunditingkahi suara aneh dari alat music dodong kodir, mereka selalu terbengong-bengong. Baru setelah itu tersenyum kemudian memuji. Kami selalu menyebutkan bahwa kami adalah seniman Indonesia yang akan mengikuti festival di Gran Canary. Dan merekapun kembali ber-good-good ria. Sayangnya diantara sekian tamu yang memuji, tidak ada satupun yang berminat untuk membeli wayang daun kerasi dadakan kami ini dengan Euro. Padahal Wayang Daun yang kami bikin adalah karya mahal karena dibuat di Spanyol. (sambung)

Tags:
5-March-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (2)

posted by Wawan Gunawan
GELISAH DI PULAU YANG INDAH

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

Tiba di Madrid pukul 04.00 waktu Madrid (24/4). Di Madrid, waktu siang hari lebih panjang. Matahari terbenam  pukul  21.00 dan terbit pukul 07.30. Tim yang sudah kelelahan, kembali harus berurusan dengan bandara, menjalani pemeriksaan seperti biasanya.  Beruntung dari KBRI Madrid, Allen Simarmata (Kep.Bid. Penerangan) dan staffnya , Suyanto menyambut  kami di pintu bandara.  Langsung kami dijamu makan malam di sebuah resto bandara.  Resto ini ternyata berkonsep selfservis. Kembali penyakit katro no 2 menimpa saya. Menu makanan yang asing  membuat saya bingung dan harus berhati-hati karena daging babi bercampur disana sini. Satu-satunya yang aman adalah ikan dan telur.
Wawan Ajen yang terbiasa ke luar negeri sangat menikmati salmon bakar yang diidam-idamkan sejak di pesawat.  Ternyata Tarif makan satu porsi mencapai 10 euro. Jika dirupiahkan maka sama dengan 150 ribu. Tentu hal itu harga yang mahal bagi mata uang Indonesia.  Berhubung perut kenyang, maka Tapiv (atas restu kami semua) membuang kantong berisi makanan yang dibawa dari pesawat seperti hot dog dan kue pasta. Padahal makanan tersebut jika dirupiahkan harganya mencapai 250 ribu. Awalnya, makanan tersebut sengaja kami kumpulkan dari jatah makan di pesawat, untuk mengantisipasi jika di Madrid sulit menemukan makanan gratis.  Ternyata, restu kami kepada Tapiv berbuah penyesalan. 5 jam berikutnya terbukti perut kami kelaparan, tanpa ada yang mentraktir lagi dan jangan harap akan menemukan warteg !
Dari Madrid kami terbang 3 jam lamanya ke Tenarife, sebuah pulau wisata yang sangat indah, seperti halnya Pulau Bali di Indonesia. Di Bandara Tenarife, kegelisahan mulai menyergap tatkala 5 kotak peralatan pagelaran yang berisi wayang, lampu, alat music, termasuk perlengkapan pribadi tidak ada. Padahal tiket untuk peralatan tersebut sejak dari Jakarta telah di bawa lewat bagasi pesawat sampai tenarife. Alhasil,  di tempat bagasi tinggal kami berempat yang termangu-mangu, berkali-kali kami menanyakan ke pihak Iberia Air lines, ternyata mereka tidak menerima paket barang kami yang di over dari Qatar Air lines.
Berjam-jam menunggu, paket yang kami tunggu tidak juga ada, maka terpaksa kami meluncur ke penginapan yang telah disediakan panita. Mr. Nikolas yang menjemput kami di bandara turut menyesalkan keteledoran pihak maskapai Iberia Air Lines. Kami disarankan untuk menunggu di hotel saja, dan   masalah tersebut menurut dia akan diurus oleh panitia. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir kami menunggu di hotel Sol Paraque San Antonio, hotel tua bintang lima yang didirikan tahun 1960. Perjalanan menuju hotel ditempuh  1 jam lamanya dari bandara Tenarife. Keindahan pulau Tenarife  semakin nyata saat matahari bersinar. Arsitektur bangunan maupun infra stuktur lainnya betul-betul mencerminkan sebagai objek pariwisata kelas dunia.  Perpaduan antara pantai, laut dan gunung.
Di Jalan tol yang lengang dan bersih tidak ada gerbang tol apalagi papan reklame seperti di Indonesia. Nyaris semua wilayah seperti Santa Cruz, Puerto De La Cruz, merupakan dearah yang dipenuhi hotel-hotel berbintang. Kabarnya banyak milyader eropa yang meninvestasikan uangnya di Tenerife dengan membangun hotel-hotel mewah. Menurut Nikolas, adanya papan reklame akan membahayakan keselamatan karena dinggap mengganggu konsentrasi pngemudi. Namun yang jelas, sebagai daerah yag dimakmurkan oleh jutaan turis asing yang masuk ke Teanerife setiap tahunnya membuat pemerintah setempat tidak mengizinkan infra strukturnya di pergunakan untuk beriklan. Hal ini, sekali lagi, kontadiktif dengan kondisi di Indonesia yang justru mengembang-biakan iklan di tempat-tempat umum, cape deeh !
Keindahan Tenarife, belum dapat kami nikmati sepenuhnya. Bpaket penting berisi alat-alat pertunjukan belum juga datang. Akhirnya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, kami berembug untuk menyiapkan rencana cadangan. Bagaimanapun juga, kami tidak ingin mengecewakan panitia yang sudah membiayai kami ke Spanyol. Dan jika pertunjukan perdana kami batal,maka sedikitnya akan mengurangi kredibilitas kami sebagai duta dari Indonesia.  kami tidak ingin itu terjadi. The show must go on. Harus dicari akal untuk mengatasi masalah itu. dan jurus pembukanya adalah bersikap tenang serta tidak panik. Dalam tekanan dan situasi yang terjepit, kami harus segera mendapatkan gagasan untuk menyelamatkan pertunjukan perdana kami nanti. (sambung)

25-January-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS 09

posted by Wawan Gunawan

Catatan Pandu Radea (1)

Go To Spain

Spring adalah musim yang indah. Semuanya tampak berwarna warni tatkala bunga-bunga liar bermekaran dan hijau dedaunan menghiasi setiap sudut tanah Eropa. Musim ini adalah musim yang tepat untuk kasmaran. Cerah matahari dan nyanyian beragam unggas mengisi siang yang terasa lebih panjang. Semuanya terlihat serba tersenyum. Pelayan restoran bersenandung kecil menyuguhkan makanan dan minuman terbaiknya, orang-orang tua asyik bernostalgia di taman-taman kota yang teduh, remaja-remaja menampilkan kekenesannya. Terpantul diatas jalan berbatu yang menjerumat gedung-gedung bergaya klasik. Inikah gerangan negeri matador ?

Tak terasa 8 jam lebih terbang di udara. Pesawat Qatar Air bus yang membawa Tim Wayang Ajen betul-betul terasa nyaman. Saya yang menderita penyakit takut ketinggian dan mengalami stress sejak naik pesawat sedikit perlahan lahan mulai melupakan pikiran buruk tentang pesawat terbang yang mogok mesin saat di angkasa. Naïf memang. Namun itulah penyakit yang membuat saya beberapa kali menolak tawaran Wawan Ajen untuk manggung ke luar negri.

Penyakit stress saya yang kedua adalah kegugupan saat pemeriksaan di bandara yang ketat dan berlapis-lapis. Beberapa kali saya merasa kikuk saat alat detector memeriksa seluruh tubuh. Kendati Wawan Ajen sudah mensimulasikan serta memberikan gambaran tentang kondisi tersebut sebelumnya namun tetap saja saya merasa katro. Apalagi saat pramugari cantik berdarah arab menanyakan potogan tiket ke Doha (Qatar) kontan saya panic karena tiket itu tidak ada dalam buku paspor yang selalu saya pegang melebihi jimat. Untungnya potongan itu ditemukan, nyelip di plastic jilid paspor dan sayapun bernafas lega tsetelah gugup selama 15 menit. Tak bisa dibayangkan apa jadinya jika potongan paspor itu betul-betul hilang.

Jam 22.00 WIB tanggal 23 April, Qatar Air bus tinggal landas. Dodong Kodir dan Tavip Lampung tampak menikmati betul perjalanan ke Spanyol kali ini. Bukan tanpa sebab, peralatan pagelaran wayang yang biasanya lebih dari 100 kg, kini hanya 82 kg. tentu saja itu meringankan tim yang hanya berjumlah 4 orang. untungnya lagi bagasi barang pertunjukan ditanggung sampai di Madrid, sehingga tim tidak kerepotan angkat jungjung setiap mau transit.

Pertama transit adalah di Singapura, negeri ini memang layak disebut sebagai Negara maju. Lantai ruang bandara saja seluruhnya dilapisi karpet tebal, motif elegan dan tentu saja mahal. Entah kapan Bandara Soekarno Hatta akan seperti itu. Di Singapura tim masih merasakan suasana Indonesia. Selain ditempuh hanya dengan setengh jam lamanya, bahasa Indonesia masih dipergunakan.

Kami transit di Doha. Dan harus menunggu 7 jam lamanya. Perbedaan waktu Indonesia dan Doha 4 jam lamanya. Selama menunggu, waktu dipergunakan untuk ngobrol ngaler ngidul, ternyata banyak juga orang Indonesia kami temui. Dan hal itu terjadi di ruang berasap alias smoking area. Di tempat itulah secara naluri kami berbincang-bincang. Beberapa bule turut nimbrung karena melihat dandanan kami yang seragam. Kami berdialog terpatah-patah, memahami pertanyaan mereka tentang wayang golek. Ternyata selain yes dan no, bahasa tarzan lebih efektif menjelaskan tentang wayang golek pada mereka.

Berkat bantuan Mr. Candra Tanuwijaya, rekan baru yang kami kenal saat menunggu transit, saya dapat mengirim berita ini dari Doha. Bukannya apa-apa, laptop adu milik kang Wawan Ajen yang selalu diagulkan ternyata tidak dapat mengkap wi-fi yang dipancarkan di ruang Bandara. Entah laptopnya yang salah atau memang saya yang gaptek ? yang jelas, saya harus berusaha untuk terus mengirim berita setiap hari. Jika laptop kang wawan tetap macet, maka pinjam adalah jurus terakhir.

Tags:
21-November-09

Wayang Ajen Indonesia Go To Perancis

posted by Wawan Gunawan

Setelah sukses tampil di Spanyol pada Festival International de Titeres de Canarias yang berlangsung pada bulan April –Mei 2009, Wayang Ajen akan manggung kembali di daratan Eropa, tepatnya di negara asal pesohor bola Zinedine Zidane, Prancis. Tim yang terdiri dari Wawan Ajen Gunawan (sutradara/dalang), Pandu Radea (Artistik & Musik dorector), Dini Irma Damayanthi (Penari Tradisi), Agus Sutandi (Musician) dan Karyana (musician) akan berada di Prancis sejak tanggal 4 sampai 18 Desember 2009.

Pagelaran Wayang Ajen di Prancis ini merupakan undangan khusus dari UNESCO melalui Association Nationale Cultures et Traditions (ANCT) Prancis untuk mengenalkan lebih luas lagi seni wayang Indonesia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO dalam program Introducing the Wayang Puppet Puppets Theatre as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage di negara Napoleon Bonaparte itu. Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
8-December-08

Video Wayang Ajen Kakufi

posted by Wawan Gunawan

Wayang Ajen Kakufi Part 1 Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
24-November-08

International Marionette Festival Hanoi 2008

posted by Wawan Gunawan

LAPORAN KEGIATAN WAYANG AJEN PARWA PUJANGGA

DALAM EVENT

“THE FIRST INTERNATIONAL MARIONETTE FESTIVAL”

16-24 FEBRUARI 2008, DI HANOI-VIETNAM

Pendahuluan

Ministry of Culture, Sports and Tourism Socialist Republic of Vietnam bekerjasama dengan The National Puppetry Theatre of Vietnam untuk yang pertama kalinya menggelar hajat besar berupa kegiatan “The First International Marionette Festival” tanggal 16-24 Februari 2008, di Hanoi-Vietnam.

The National Puppetry Theatre of Vietnam yang merupakan gedung teater wayang Vietnam, dijadikan sebagai pusat kegiatan selama berlangsungnya festival marionette Internasional. Fasilitas gedung pertunjukan yang representatif merupakan salah satu penunjang besar bagi suksesnya pelaksaaan kegiatan tersebut. Lebih dari itu pelayanan dan penanganan baik teknis maupun non teknis, telah dibuktikan oleh sikap profesionalisme kepanitiaan dengan jumlah yang sangat proporsional, meskipun dalam hal tertentu masih terdapat beberapa kelemahan yang dapat diatasi dalam waktu singkat.

Negara-negara peserta yang tampil dalam event festival tersebut adalah; Indonesia (Wayang Golek Ajen Parwa Pujangga), dan (wayang sandosa senauangi), Mesir ( Cairo Puppetry Theatre-Egypt), Belgium (Tof Theatre), Brazil (Morpheus Teatro 12), Israel (The Train Theatre), Philipina (Animo Shadowplay) dan (Tali Galaw), Thailand (Hobbpyhut Chiang Mai), Sweden (Staffan Bjorklunds Theatre), China (Jiangxi Province Puppet Trope), Singapura (Mascots and Puppets), Vietnam (Vietnam National Puppetry Theatre), (Thang Long Puppetry Theatre), (Ho Chi Minh City Puppetry Group), (Hai Phong Puppetry Group), dan (Dac Lac Puppetry Group). Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
24-November-08

Perjalanan Tim Wayang Ajen ke Yunani & Cyprus 2008

posted by Wawan Gunawan

PERJALANAN (1)

TIM WAYANG AJEN PARWA PUJANGGA

Dalam kegiatan

“THE TENTH INTERNATIONAL FESTIVAL PUPPET & MIME OF KILKIS YUNANI, 01-14 OKTOBER 2008,

PENDAHULUAN

Greek Republik Municipality of Kilkis Mr.Dimitrios Terzidis Walikota Kilkis Yunani bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Kilkis Mr. Juanjo Corrales sebagai artistik direktur untuk yang kesepuluh kalinya menggelar hajat besar berupa kegiatan “The Tenth International Festival Puppet & Mime of Kilkis Yunani” tanggal 01-14 Oktober 2008, di Gedung Teater Kota Kilkis.

Gedung teater yang merupakan pusat kebudayaan dan museum boneka internasional di Kilkis, dijadikan sebagai tempat kegiatan selama berlangsungnya festival Internasional puppet & Mime. Fasilitas gedung pertunjukan yang representatif merupakan salah satu penunjang besar bagi suksesnya pelaksaaan kegiatan tersebut. Terlebih dari itu pelayanan dan penanganan baik teknis maupun non teknis, telah dibuktikan oleh sikap profesionalisme kepanitiaan dengan jumlah yang sangat proporsional, meskipun dalam hal tertentu masih terdapat beberapa kelemahan yang dapat diatasi dalam waktu singkat. Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
23-November-08

Video Wawancara O Channel TV

posted by Wawan Gunawan

Wawan “Ajen” Gunawan saat diwawancara oleh O Channel TV

Tags:
23-November-08

Video Wayang Ajen - Marionette Festival Hanoi 2008

posted by Wawan Gunawan

Video Wayang Ajen di Festival International Marionatte Hanoi 2008 Part 1 Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
22-November-08

Video Wayang Ajen - Bekasi

posted by Wawan Gunawan

Pagelaran Wayang Ajen pada acara HUT Kota Bekasi Tahun 2006 Read More/Baca Selengkapnya »

Tags: