Archive for the ‘Others’ Category

November-22-11

Wayang Ajen Performance Videos

posted by Wawan Gunawan

Heureuy Emban

Tari Gatot Kaca

Tari Cakil

Arjuna Vs Cakil

Tari Maktal

Perang Tanding Gatotkaca

Bobodoran Baduy

Heureuy Buta

Cepot Vs Buta

Cepot Gokil

Kolaborasi Wayang Ajen dan Wayang Tavip

Tari Jaipong Bajidor Kahot

Tags:
July-9-11

Wayang Ajen Concert, Live in Marrakash

posted by Wawan Gunawan

Yayasan Putro Pendowo dengan bangga mempersembahkan

Konser Wayang Golek Ajen

Ki Dalang Wawan Ajen

dengan Lakon

“Gatutkaca Jumeneng Raja”

Tgl 15 Juli 2011, mulai pkl 20.00

Plaza Square, Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara

Kota Bekasi

Tags:
February-15-11

WAYANG GOLEK AJEN- ISHARA FESTIVAL

posted by Wawan Gunawan

Theatre Two shows from Indonesia have wooden puppets recreating tales from the Ramayana. P. ANIMA reports

ON A STRING The puppet cast of “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran”; Ki Dalang Wawan Gunawan

ON A STRING The puppet cast of “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran”; Ki Dalang Wawan Gunawan

Related

PHOTOS

T wo pivotal episodes from the Ramayana — a besotted Sita urging her husband Ram to get her the golden deer which finally ends in her abduction, and later Sita in Ashoka Vatika, waiting for Ram to overpower Ravana and set her free — will be enacted, keeping abreast the drama, by wooden puppets. The titles of the two productions from Indonesia, “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran” and “Gugurnya Rahwana — Death of Ravana”, may sound incongruous until one lingers at the syllables, but vouch to tell a familiar tale when they will be staged at the Ishara International Puppet Festival unveiling on Friday.

Performed by Ki Dalang Wawan Gunawan and his troupe, the two performances peopled by wooden and rod puppets aim to be visual splendour, replete with puppets dressed in traditional Indonesian attire and swaying to traditional music. In an e-mail interaction, Wawan Gunawan says stories from the myths are still popular in Indonesia and puppetry still a thriving art.

The story of Sita’s abduction and Ravana’s death continues to be told often, says Wawan Gunawan.

“These stories are very popular among puppet lovers especially in Java island, which includes west, central and east Java, and also the island of Bali. The plays are often performed by the puppet masters,” he adds.

The performance form, Wayang Golek Ajen, evolved from the more traditional Indonesian theatre — Wayang Golek (wooden puppets) Sunda, he informs. The contemporary form sticks to a structured plot with each performance rolling out as a “unique presentation of dramatic art” and the audience given the freedom to decode the symbols and emotions. A lot of colour marks a Wayang Golek Ajen show.

“Wayang Ajen was born from an awareness among the younger generation regarding the traditional Wayang Golek Sunda and is an attempt at reading traditions in a modern way to produce something different. The structure of a Wayang Golek Sunda performance was recreated along the lines of modern theatre using a dramaturgical conceptual approach,” says Wawan Gunawan, who is said to have developed the new form with Arthur S. Nalan.

“Wayang Ajen aims to provide an alternative style of performance, especially for the appreciation of the younger generation, wherein we can see our own reflections,” he says.

Scripts are composed based on the Mahabharata and the Ramayana and are artistically packaged to form capsules with moral messages that are more actual and contextual, rather than historical.

Puppetry, says Wawan Gunawan, is still perceived as a tool to spread the philosophy of life and values. The art, he adds, brings together a range of artisans, from the wood carvers, designers and painters to costume and accessory makers. While a typical Wayang Ajen show unravels to the accompaniment of Gamelan music played by around 30 musicians with instruments like saron, peking and rebab, it is only a team of three — one puppeteer and two musicians — who will make it to the Ishara show. “What can we do? Some of the things are very heavy, but this is art,” says Wawan Gunawan.

http://www.thehindu.com/todays-paper/tp-features/tp-metroplus/article1151057.ece

Tags:
January-29-11

Wayang Golek Ajen Goes To India

posted by Wawan Gunawan

Wayang Golek Ajen, telah diundang secara resmi oleh Mr. Dadi P. Pudumjee (Presiden UNIMA dunia) sebagai direktur The Ishara Puppet Theatre Trust India untuk mengikuti The 9th ISHARA INTERNATIONAL PUPPET THEATRE FESTIVAL di N-Delhi India,tanggal 03 - 09 Februari 2011. Festival ISHARA akan diikuti oleh peserta dari 8 negara, seperti: India, Italia, Ukrania, Israel, Indonesia, Iran, Spanyol, dan Turky. Tim Wayang Golek Ajen akan berangkat ke India tanggal 03 Februari 2011 dengan pesawat Thai Airway. Wayang Golek Ajen dijadwalkan pentas tanggal 5 & 7 Februari 2011 di Stien Auditorium India Habitat Centre, New Delhi. Lakon yang akan disajikan dari kisah RAMAYANA, yaitu “Sinta Ilang” dan “Rahwana Gugur”. durasi pentas 60 menit. Tim Wayang Golek Ajen Indonesia: (Wawan Ajen: dalang/penulis naskah/sutradara; Dedi Budiman: Penata Musik; Cucu Mahyana: Pemusik), rencana didukung oleh Mr.Amb.Samodra (Presiden UNIMA Indonesia, KBRI di India, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di New Delhi- India. Semoga. http//www.wayangajen.com

Tags:
November-5-10

WAYANG GOLEK AJEN DI PRAHA

posted by Wawan Gunawan

KOMPAS

Wayang Ajen di Kampung Merdeka, Praha

Kamis, 19 Agustus 2010 | 15:45 WIB

DSC01741.JPG

LONDON, KOMPAS.com–Pergelaran Wayang Golek Ajen untuk pertamakalinya dipentaskan pada acara “Gempita Kampung Merdeka” memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-65 Republik Indonesia (RI) di Kedutaan Besar RI (KBRI) Praha,. Ceko.

Penampilan Wawan Gunawan dan rombongan kesenian dari Jawa Barat ini mampu memikat lebih dari seribu penonton yang memadati halaman KBRI Praha, ujar Kuasa Usaha Ad Interim/Counsellor Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbudpar) KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA News London, Kamis.

Meskipun mendung terus menggayut, namun para penonton tetap bertahan melihat acara Gempita Kampung Merdeka sampai selesai di halaman KBRI Praha, Ceko yang disulap dengan berbagai hiasan tradisional seperti layaknya hajatan di Indonesia.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, yang menjelaskan tujuan kegiatan Gempita Kampung Merdeka sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia dan rangkaian peringatan HUT RI ke-65.

Acara tersebut sekaligus penyerahan Piagam Penghargaan Bintang Jasa Pratama dari Presiden RI kepada Prof. Zorica Dubovska, yang telah mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia di Ceko lebih dari setengah abad.

Raka Pamungkas dan Sona Cermakova memandu acara dalam Bahasa Indonesia dan Ceko tampil kompak mengatur jalannya acara. Tari Merak, Topeng Klono, Jali-Jali dan pertunjukan gamelan dengan lagu-lagu daerah bumi Parahyangan mampu memikat penonton hingga bertahan sampai akhir.

Tidak saja kesenian dari Jawa Barat yang malam itu ditampilkan di acara Gempita Kampung Merdeka. Tari Wiranata dari Bali ditampilan oleh Michal Mach, sementara gamelan Bali pimpinan John Adams juga tampil dengan lagu Bapang Slisir. Keduanya adalah mantan penerima Beasiswa Darmasiswa dari ISI Denpasar,

Selain menampilkan tari-tarian, juga dipamerkan foto foto kehidupan masyarakat Jawa Barat karya Rai Bachtiar Drajat yang mengusung tema Air, Bumi dan Aku, serta pemutaran dokumenter film pendek berjudul Upacara Ngalangsak untuk menghormati Dewi Sri sebagai dewi kesuburan.

Desiner Batik dari Bandung, Dr. Tetet Cahyati, memamerkan puluhan karyanya , selain itu juga ditampilkan peragaan busana bersama desiner kebaya Ira Marina yang dibawakan oleh sejumlah model dari Ceko.

Penampilan Wayang Golek Ajen merupakan puncak acara malam itu. Penampilan dalang Wawan Gunawan dari Kota Bekasi, Jawa Barat menyedot perhatian pengunjung sampai anak-anak yang turut tertawa melihat penampilan lucu Cepot dan Dawala.

Wawan Gunawan yang mengambil cerita kisah Rama dan Shinta, mampu membuat masyarakat Ceko tidak beranjak sampai acara ditutup.

Selama acara berlangsung, tampak ratusan pengunjung antri membeli Bakso, kolak, asinan, dadar gulung, pastel, tanaman bumbu dapur Indonesia dan aneka suvenir tradisional yang dijual masyarakat Indonesia di Praha.

Koordinator acara, Meitria Malkova, mengatakan Gempita Kampung Merdeka tersebut banyak mendapat respon positif dari berbagai kalangan di Ceko. Beberapa peminat Batik langsung memborong kain-kain yang diperagakan. Dirinya juga dihujani berbagai pertanyaan tentang Jawa Barat oleh para pengunjung.

Sementara itu, Ibu Deri Kiemas yang pengusaha dari Bandung selaku pihak membantu terlaksananya kegiatan tersebut  mengatakan kebahagiaannya dapat mempromosikan Jawa Barat di hadapan lebih dari seribu pengunjung yang sebagian besar masyarakat Ceko, terutama untuk acara penting seperti peringatan HUT RI.

Penulis: Jodhi Yudono   |   Editor: Jodhi Yudono   |   Sumber : ANT

Tags:
April-10-10

Behind The Scenes “Wayang Ajen In Korea 2010″

posted by Wawan Gunawan

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea

Tags:
March-22-10

Wayang Ajen Go To South Korea

posted by Wawan Gunawan

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju City, South Korea

Tags: