Archive for the ‘Article’ Category

Kuncup Bunga Budaya di Jeonju Korea Selatan

Oleh Pandu Radea

Udara dingin kembali menyergap saat tim Wayang Ajen Keluar dari Bandara Incheon International Korea Selatan. Situasi ini seperti memutar rekaman perjalanan Wayang Ajen saat tampil di Prancis, Desember 2009. Ketika itu, pertama kalinya Wayang Ajen manggung di musim dingin. Dan kendala manggung dengan suhu seperti itu langsung dirasakan oleh Wawan Ajen. Pergelangan tanganya langsung didera rasa pegal dan linu. Hal ini jika dibiarkan tentu akan mengganggu performer dirinya saat memainkan wayang. Bahkan saat di Gannat, Wawan sempat dibawa oleh panitia ke dokter setempat untuk diobati. dan untuk meringankan sakitnya juga di bantu oleh anggota tim lainnya yang bertindak sebagai tukang urut dadakan.

Sebetulnya, saat ini di Korea Selatan memasuki awal spring. Namun tetap saja sisa-sisa udara dingin yang teramat menggigit masih menyelimuti negeri ginseng ini. Sekali lagi perubahan drastis dari suhu jakarta yang berkisar 29 derajat celcius menjadi 5 derajat celcius di Korea membuat tim Wayang Ajen kelabakan. Wawan Ajen pun merasa was-was, takut penyakitnya kumat lagi. Nyeri di persendiannya tergolong sudah akut.

Thomas dan Lee Yo Han sudah menunggu kami di bandara. Mereka berdua adalah panitia yang menjemput tim Wayang Ajen yang diundang tampil dalam Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea Selatan. Ini adalah event prestisius bagi Wayang Ajen, karena dalam festival ini, Wayang Ajen mewakili seni Wayang Indonesia yang sudah dinobatkan oleh Unesco sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity akan tampil bersama warisan budaya dunia takbenda lainnya, yaitu kesenian klasik dari Korea Selatan, India dan Jepang yang juga sudah dikukuhkan oleh PBB.

Tim Wayang Ajen yang berangkat dalam misi budaya ini yaitu Wawan Ajen (Dalang/pimpro), Pandu Radea (Art Director), Tavip Lampung (Dalang Wayang Tavip), Dini Irma Damayanthi (Penari/penyanyi), Ade Suparman (Music Director), Endang Amas (pemusik), dan Gaura Mancacaritadipura (official). Tim akan tinggal selama seminggu, yaitu dari tanggal 23-29 Maret 2010, dan dijadwalkan pentas sebanyak 2 kali yaitu hari Sabtu 27 Maret di Gyeonggijeon Special Stage (siang/outdoor) dan di Hanybyuk Theatre (malam/indoor)

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju ini mengambil tema  The Flower of Asia Pacific Intangible Culture Buds in Jeonju. Tema ini kontekstual karena selain diselenggarakan di musim bunga (spring), juga pertama kali diselenggarakan di Jeonju yang tengah mempersiapkan diri menjadi kota pertama yang dikukuhkan PBB sebagai kota warisan budaya dunia. Pemerintah Korea pun tidak main-main, rencana pembangunan untuk mewujudkan itu akan terus berlangsung sampai tahun 2013.

Selanjutnya, Jeonju akan menjadi wilayah PBB di Korea yang berfungsi sebagai etalase untuk memajang dan menampilkan keragaman budaya tradisional dari setiap negara yang akan diundang dalam berbagai event festival. Maka dengan demikian, reputasi Jeonju sebagai kota budaya tradisional dunia, akan tumbuh dan meningkatkan citra pariwisata Korea di dunia International. Dalam data base Asia Pacific Intangible Cultural Heritage yang dikeluarkan oleh Asia Pacific Cultural Centre for Unesco terdapat 15 jenis Seni Pertunjukan tradisi Korea yang tercatat sebagai intangible cultural heritage. Sedangkan Indonesia baru 10 jenis yang sudah tercatat.

Seni Kutiyattam dan Cheoyengmu

Banyak surprise yang dirasakan Tim Wayang Ajen Indonesia saat tiba di Jeonju. Seperti halnya pelayanan panitia festival yang begitu bersahabat. Mereka memang dipersiapkan untuk selalu memunculkan citra positif bagi setiap peserta festival. Wayang Ajen ditempatkan disebuah komplek bangunan tradisional yang disebut Hanok Village. Ini merupakan perkampungan tradisional di Jeonju yang dibentuk oleh kaum cendekiawan sekitar tahun 1930-an. kini jumlahnya hanya 800 bangunan saja. Ruang dan arsitekturnya mirip rumah tradisi Jepang, tidak ada kursi, apalagi tempat tidur besi. Serba ngampar. Yang menarik adalah sistem pemanas ruangan. Tidak seperti bangunan di eropa, pemanas ruangan di Hanok Village disalurkan melalui lantai bangunan.

Demikian pula situasi dan kondisi kota Jeonju yang asri, indah dan bersih, masyarakatnya telah memiliki kesadaran untuk turut mensukseskan program budaya yang dicanangkan oleh pemerintahnya. kota ini juga banyak menyimpan peninggalan bangunan bersejarah yang penting dan tetap terpelihara dengan baik. Sebelum pentas, Tim wayang Ajen yang selalu didampingi oleh Ny.Kim dan Hannah, banyak diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti, Joenju Gaeksa, Istana Gyeonggijeon, Songgwang Temple, dan Poong Nap Moon Gate. Selain itu, kami diajak menikmati berbagai makan khas Korea di restoran yang berbeda-beda.

Tiga hari kami menikmati kota Jeonju. Dan dua malam kami dapat menyaksikan pertunjukan dari Korea, India dan Jepang. satu malam ada dua pertunjukan di Hanybyuk Theatre. Pertunjukan pertama yang kami apresiasi adalah Kutiyattam dari Krala, India. Kesenian ini merupakan teater kuno yang usianya sudah 2000 tahun. Sampai saat ini masih menggunakan bahasa sangsekerta. Mereka tampil dalam lakon Kalyana Saughandikam, ceritanya dan perfomanceya sederhana tentang pertemuan Bima dan, namun sulit untuk ditafsirkan begitu saja. Banyak bahasa gerak, gestur, mimik dan simbol-simbol lainnya yang rumit.

Ada sebuah perbedaan yang ternyata menjadi persamaan. Idealnya tokoh yang ada dalam Ramayana dan Mahabarata merupakan tokoh terpisah. Dua kitab itu dianggap tidak memiliki hubungan yang berkaitan. Jadi, Hanoman yang merupakan tokoh di Ramayana sebetulnya tidak mungkin ketemu atau dicampurkan dengan Bima yang ada dalam Mahabarata. Namun dalam Kutiyattam hal itu terjadi, pun demikian dalam Wayang Ajen, Lakon Dewa Ruci yang dipersiapkan, juga menghadirkan Hanoman dan Bima. Ini juga menjadi diskusi yang menarik antara tim Wayang Ajen dan Group G.N Venu yang memainkan Kutiyattam.

Usai Kutiyattam, giliran Seni Cheoyongmu dari Korea. Seni ini ditetapkan sebagai Important Intangible Cultural Property No.39. Ini juga seni kuno yang menitikberatkan pada tarian penuh simbol. Penarinya 5 orang melambangkan arah mata angin. Konsepnya sama dengan filosofis papat kalima pancer. Menyaksikan 2 pertunjukan klasik itu, nyaris semua penonton menjadi senyap. Ada dua kemungkinan yang membuat pertunjukan menjadi senyap, penontonya tertidur atau memang khusyuk berapresiasi. Yang jelas dua pertunjukan itu memang terasa monoton.

Mengikuti festival ini, bagi Wayang Ajen seperti mengulang catatan lama. Wawan mengisahkan bahwa sebelum Wayang Indonesia dianugrahi sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity tahun 2003, Wayang Ajen banyak berkiprah memperkenalkan seni wayang Indonesia di beberapa negara Eopa. Menurut Wawan, sedikit banyak Wayang Ajen mempunyai andil yang tidak sedikit sehingga Unesco menganugrahi Wayang Indonesia seperti yang disebutkan di atas

Wayang Ajen Indonesia, The Best Performer

Dua pertunjukan Wayang Ajen tanggal 27 Maret dilaksanakan dalam ruang dan waktu berbeda. Siang hari kami tampil di Gyeonggijeon Special Stage. Awalnya kami tidak tahu jika akan pentas siang hari. Ada beberapa kendala yang tidak bisa disiasati. Yang paling prinsip adalah Wayang Tavip tidak mungkin ditampilkan karena wayang pengembangan dari konsep wayang kulit ini mengandalkan effeck bayang-bayang dari lampu yang dirancang khusus. Jadi, harus gelap. Namun untuk memenuhi jadwal akhirnya kami tampil juga. Seketika kami membuat lakon carangan tentang si Cepot belajar memanah. Pertunjukan menjadi komedi sepenunya. Wawan Ajen banyak memainkan bahasa gerak yang lucu. Sesekali dialog menggunakan bahasa Inggris dan Korea, yang sebelumnya kami translate terlebih dulu.

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Penonton yang sebagian besar adalah wartawan, fotografer dan masyarakat pun terpuaskan. Ternyata pertunjukan siang hari ini menjadi semacam publikasi dan informasi bagi masyarakat unutuk menonton pertunjukan sebenarnya. Semua kesenian yang diundang di Festival ini memang juga diagendakan tampil siang hari. Dan itu berdampak besar bagi Wayang Ajen, menurut Lee Yo Han, panitia yang juga mengurus marketing, ternyata tiket untuk Pertunjukan Wayang Ajen sudah habis 1 hari sebelumnya. Bahkan banyak yang waiting list.

Malam harinya, setelah pertunjukan klasik Namsadang Play (Boneka Tradisi Korea), giliran kami unutk tampil. Hanya 10 menit kami diberi kesempatan untuk mempersiapkan panggung. Untung saja, semua peralatan sudah di susun sejak sore hari. Kami tinggal memindah ke areal panggung yang lantainya sudah ditandai untuk setiap itemnya. Sehingga Jagat, janturan wayang, alat musik dan layar Wayang Tavip, semuanya selesai dikerjakan hanya dalam waktu 8 menit.

Pertunjukan pun berjalan dengan baik. Wawan Ajen mampu menunjukan kemampuan terbaiknya. Dalang asal Ciamis peraih 2 kali medali emas dalam festival boneka sedunia di Bangkok dan Hannoi tahun 2004 dan 2008 ini, mampu menjalin komunikasi dengan penonton. Lagi-lagi si Cepot menjadi bintang. Aksinya akhirnya memecahkan kesunyian di Hanybyuk Theatre yang malam-malam sebelumnya terasa senyap oleh berbagai pertunjukan kesenian yang rata-rata tidak memiliki sifat interaktif dengan penonton.

Lebar layarWayang Tavip mampu menjembatani luas ruangan. Wayang Tavip pun memunculkan beberapa jenis wayang Indonesia. seperti Wayang Kulit Jawa dan Wayang Kulit Indramayu. Dua jenis Wayang ini sebetulnya tidak jauh berbeda. Cuma sengaja ditampilkan untuk menunjukan keberagaman seni Wayang Indonesia. Apalagi Wayang Kulit Indramayu keberadaanya nyaris punah. Selayaknya diperkenalkan kembali.

Mau tidak mau ini adalah penyiasatan dari personel yang terbatas. Gending wayangpun hanya dimainkan oleh dua buah kecapi dan satu set kendang. Kendati demikian, Ade Suparman dan Endang Amas bermain maksimal. Dini pun demikan selain menari jaipongan dirinya juga menyanyi. Dan saya, selain menata artistic, juga memainkan perkusi sekaligus menjadi catrik dalang.

Pertunjukan diakhiri dengan indah ketika Sicepot mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Korea berjudul Arirang. Lagu ini adalah lagu penting bagi masyarakat Korea. Akhirnya ruanganpun penuh dengan senandung penonton yang terbeli hatinya. Kami tersenyum puas. Dan semakin puas ketika panitia, berdasarkan animo penonton, menyatakan bahwa Tim Wayang Ajen Indonesia menjadi the best performer. Tanggal 29 kami akhirnya pulang dengan bangga. Sedikitnya nama Indonesia melalui seni Wayangnya akhirnya dikenal luas di Jeonju. Tidak berlebihan, karena bulan September tahun ini, mereka akan mengundang kembali Wayang Ajen Indonesia untuk tampil di Korea.

Tags:
March-5-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (5)

posted by Wawan Gunawan

CATATAN PANDU RADEA

MUCHAS GRACIAS FRANSISCO BRITO !

Kami sangat berterima kasih sekali kepada Fransisco. Tanpa dirinya, boks perlengkapan akan terlambat kami terima. Kendati Wayang Daun sudah siap di panggungkan, namun tentu saja pentas Wayang Golek dengan proses yang sudah dimatangkan di tanah air akan jauh lebih baik. Misi kami mengenalkan seni wayang di Tenerife akan lebih afdol. Mereka bisa melihat kolaborasi Wayang Golek termasuk Wayang Kulit sebagai idiom khas seni tradisi dan budaya Indonesia yang telah diakui ke adiluhhungannya di dunia International.

Berkali-kali Fransisco mengucapkan kata crazy saat kami menceritakan akan pentas dengan wayang daun jika boks perlengkapan tidak datang. Dirinya begitu terperangah saat kami mendemontrasikan Wayang Daun. Menurutnya, dalam situasi yang genting dan darurat ternyata kami mampu berekspresimen yang hasilnya layak untuk ditampilkan. Inilah kreatifitas seniman di tingkat master, kurang lebih demikian komentar Fransisco yang saya tangkap.  Saya hanya nyengir mendengar pujian Fransisco. Dalam benak saya, bikin wayang daun  seperti ini anak kecil juga bisa. Dulu, bikin wayang dari daun singkong telah menjadi bagian dari permainan anak-anak di lembur.

Mungkin lain dengan apa yang ada di benak Fransisco. bukan masalah bikin Wayang Daunnya yang memang teramat mudah. Menurutnya, selama menyelenggarakan berbagai even boneka di dunia, baru kali ini dirinya melihat tim kesenian yang mampu mengatasi dan menguasai tekanan situasi dengan menghasilkan karya baru. Karena bagaimanapun juga perlengkapan pertunjukan adalah nyawa bagi setiap grup yang akan tampil. Wayang Daun akhirnya menjadi investasi karya kami selanjutnya. Kepada fransisco kami katakan Wayang Daun tidak akan kami pentaskan, berhubung perlengkapan pertunjukan sudah ada di tangan kami. Walau sedikit menyesal pada akhirnya Fransisco berjanji suatu waktu akan menampilkan Wayang Daun jika kami sudah siap.

Menjelang sore, kami dijamu makan malam di sebuah restoran tradisional di Los Realejos. Tempatnya di pegunungan dengan ketiggian 700 dpl. Sebelumnya kami diperkenalkan kepada Mr. Domingo Bordes, ketua panitia Festival International de Titeres de Canarias yang menyambut kami dengan ramah. Berkali-kali dirinya mengucapkan muchas gracias yang berarti terima kasih banyak. Mengenai bahasa, yang pertama saya ingat adalah kata salida. Tulisan ini banyak ditemukan dimana-mana. Awalnya saya menyangka salida adalah jenis makanan sejenis salad atau sayuran. Ternyata salida berarti keluar. Sehingga ketika pertama kali saya minta salida ke pelayan restoran, hasilnya adalah saya disuruh keluar.

Di Spanyol saat ini adalah musim semi. berbagai bunga liar bermekaran dimana-mana. Betul-betul indah. Inilah salah satu puncak mimpi saya. Pemandangan eropa yang biasanya hanya dapat saya lihat di kalender-kalender, kini terpampang langsung di depan mata. Di tempat ini, kami pun berjumpa dan berkenalan dengan seniman boneka dari Yunani dan Spanyol yaitu Stasis Markopolus (Ayusaya), Marga Carbonell, Miren Larrea dan Gini Tellez. Momen penting ini menjadi pertemuan budaya antara asia dan eropa.

Mereka bertanya banyak tentang Indonesia yang memang kurang dikenal. Hanya 3 tempat di Indonesia saja yang mereka tahu. Domingo hanya tahu Aceh saja karena berita Tsunami beberapa tahun lalu. Marga hanya tahu Papua,  dengan suku asmat yang sempat dibacanya di buku archipelago. Sementara Mirren dan Gini hanya mengenal Bali. Mereka semua tidak tahu bahwa tempat-tempat tersebut adalah Indonesia.

Karena keterbatasan bahasa, untuk menjelaskan Bali, saya terpaksa mendemontrasikan tari Bali. Setelah susah payah peperengkelan meniru tari Bali sambil sekali-kali molototkeun mata, mereka akhirnya ingat akan Bali. Bahkan Gini, gadis jangkung ini minta diajari. Ketika Tavip menggambarkan Kalimantan, maka yang diperagakan adalah tarian  dayak yang acak kadut. ya, kepada mereka kami jelaskan keragaman seni budaya di Indonesia.  dengan keterbatasan, yang ada kami berupaya menggambarkan budaya Indonesia. Sedikit demi sedikit akhirnya mereka mulai faham tentang Indonesia. Apalagi setelah Wawan Ajen membuat peta kasar Indonesia dari perpaduan pizza, beef dan roti kering.

selesai ngobrol tentang Indonesia maka  Mirren yang merupakan peñata music di kelompok La Canija mulai bermain musik. Irama latin pun menghentak dari gitar akustik yang dimainkannya dengan energik. Sontak Magda pun tampil menarikan flamenco. Sementara yang lain, bertepuk tangan mengringi irama gitar.  Marco yang terlihat pendiam, mulai memainkan harmonicanya. dan Dodong pun menimpalinya dengan  suara karinding, dan kloplah sudah, sebuah harmoni yang indah dari persentuhan budaya yang berbeda, mengalun di lereng pegunungan Los Realejos.

Malam yang yang bersuhu 7 derajat C pun dihangatkan suasana ceria. Berikutnya kami diminta tampil kembali. Kali ini mereka meminta kami memainkan lagu khas yang tengah popular di Indonesia. Rupanya mereka sangat penasaran ingin tahu kebudayaan Indonesia. Setengah grogi saya mencoba memainkan gitar dan Dodong Kodir memainkan alat petik sejenis banjo. Mendadak ingatan saya menjadi blank. Hanya satu lagu yang saya ingat, yaitu, Hujan Duit.

Irama dangdut pun terdengar. Wawan Ajen tampil sebagai vokalis dan Tavip yang bersuara silung menjadi penyanyi latar. Berhubung penonton adalah orang asing, mereka sangat menikmati senandung kami yang diangap merdu (atau mungkin pura-pura menikmati). Padahal jika diIndonesia pertunjukan kami ini mungkin diseungseurikeun. Namun peduli amat, yang penting mereka memberi aplaus yang meriah. Lagu berikutnya adalah Bang Toyib. Entah kenapa, saat itu hanya lagu dangdut yang nempel di otak saya. Sialnya lagi, baik Wawan, Dodong, dan Tapiv ternya mengalami juga penyakit limpeuran.

Karena mereka semakin intens, kami pun semakin pe-de. Maka lagu-lagu berikutnya pun mengalir spontan. Akhirnya kami mulai mengingat lagu-lagu lainnya, terutama lagu-lagu daerah seperti   Bubuy Bulan, Mojang Priangan, Bungong Jeumpa, Gundul-gundul Pacul dll diperdengarkan secara medley. Suasana semakin hangat saat Wawan Ajeng tampil ngibing, memancing Gina untuk ikut ngarengkenek. Kolaborasi flamenco dan bajidoran yang aheng dan pikaseurieun.

Semakin larut, malam pun semakin unik dan hangat. (sambung)

Tags:
March-5-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (4)

posted by Wawan Gunawan

CATATAN PANDU RADEA

SYMPONI PAGI YANG INDAH
Pukul 21.00 waktu spanyol, matahari baru tenggelam.  Kelelahan bereksperimen dengan wayang daun membuat tidur menjadi lelap.  Fransisco Brito, direktur teater di Yunani yang menjadi promotor  kami selama di Spanyol belum datang. The show must go on. Toh konsep pertunjukan Wayang Daun sudah kami siapkan. Saya dan Tavip akan berakting sebagai Rahwana dan Rama. Sementara Wawan Ajen akan memainkan wayang daun dan Dodong mengeksplorasi bunyi. Ya, tidak jauh dengan konsep jeprut jaya (istilah Iman Soleh) alias perpomance art.
Rasa pe-de memang harus dipupuk dalam kondisi seperti ini, jika tidak maka rasa  frustasi akan terus berkepanjangan. Setidaknya, kami berharap Wayang Daun akan mendapat apresiasi dari penonton, seperti  pertunjukan boneka dari beberapa kelompok lain diantaranya  Spanyol (Teatrapa Plus S.L, Maquina Real, Garabatos-K, Teatro Dos Mundos dan La Canija), Yunani (Ayusaya Puppet Theatre), Bulgaria (Teatro Atelier 313), dan Polonia (Wiczy Theatre).
Bahkan Teatro Dos Mundos dalam pertunjukannya mengeksplorasi berbagai plastictik termasuk kantong keresek.  Rencana tersebut belum kami kompirmasikan ke Director Festival, Mr. Domingo Bordes. Setidaknya, kami masih mempunyai waktu beberapa jam lagi untuk berharap boks alat pertunjukan sudah ada di depan pintu kamar kami, ya minimalnya, ada informasi tentang keberadaanya.
Tanggal 26 april. Pagi yang dingin. Landskap pulau Canarias berwarna jingga diselimuti cahaya sunrise. Inilah taman firdaus bagi berbagai jenis burung. Sekeliling hotel yang rimbun oleh berbagai jenis tumbuhan seperti palm dan tanaman keras lainnya menjadi tempat  orchestra  bagi jenis burung seperti tekukur, jalak hitam, kenari, puter, merpati, ketilang, anis, wambi dll,  untuk ramai   bersimponi. Ternyata Burung Kenari yang dikenal di Indonesia merupakan burung asli Pulau Canarias.
Sebuah ketukan di pagi hari membawa berkah kegembiraan. Wonderful ! Mr Fransisco Brito sudah berdiri di depan pintu. Pria itu seperti muncul dari nadir langit. Senyumnya mengembang bagai bunga musim semi. Olala, Fransisco Brito ! 2 hari kami menantimu bagai pengantin baru menunggu malam pertama. Pria Yunani berwajah tirus itu tersenyum lebar menatap kami dengan kerinduannya. Dan berikutnya kamar hotel Sol Parague San Antonio bernomor 326 dipenuhi gelak tawa, Wawan Ajen, Tavip Lampung dan Dodong Kodir bertingkah seperti anak kecil yang bertemu bapaknya setelah 100 tahun berpisah. Ceracau dan bodi language-nya mengalahkan suara dan tingkah burung tekukur yang lagi kasmaran.
Sembari tersenyum tangan Fransisco menunjukan 5 buah box yang berjajar rapih. Tak ayal kami berpelukan dengan pria yunani yang kami kenal baik di Festival Puppet And Mime di Cyprus tahun 2008.  Pria jangkung yang humoris itu menceritakan bahwa saat dirinya tiba di Airport Reina Sofia Tenerife, dirinya melihat boks  berbendera Indeonesia dan bertuliskan Wayang Ajen tengah dibawa oleh seorang petugas bandara. tak ayal dirinya langsung berinisiatif membawa boks tersebut ke hotel kami.
Inilah kontradiktif yang ke 3. Ternyata nilai-nilai toleransi masih tinggi dianut oleh warga eropa. Hal itu bisa terlihat dari perikehidupan masyarakat Tenerife. Pengemudi kendaraan sangat menghargai pejalan kaki, budaya antri yang tinggi,  ketaatan berlalulintas, bersih dari sampah, keramahan penduduknya, dan jauh dari  pengrusakan lingkungan membuat suasana di Tenerif menjadi kota yang tertib dan teratur. Sepanjang yang saya lihat, tidak ada vandalisme. Tembok-tembok jalan tapak bersih, tidak ada coretan usil.

Dan satu hal lagi, di Tenarif nyaris tidak ada lampu merah maupun polisi lalu lintas. lampu merah di setiap persimpangan diganti dengan bundaran jalan, istilah spanyolnya adalah rotunda. Pembangunan Infra Strukturnya betul-betul matang dan terencana. Pohon-pohon tua dan bangunan-bangunan lama sangat dilindungi sebagai salah satu asset wisata. Sementara di Indonesia ?

Tags:
March-5-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (3)

posted by Wawan Gunawan
CATATAN PANDU RADEA
TAK ADA ROTAN DAUN PUN JADI !
Masalah yang membenam dalam benak adalah bahwa kami tidak akan bisa pentas jika peralatan kami tidak segera ditemukan. Sejak bangun tidur Wawan Ajen terus melakukan kontak ke berbagai pihak. Parahnya lagi, selama di hotel, kami tidak di sertai oleh guide  yang disediakan panitia, tentu saja kondisi tersebut membuat kami sakaparan-paran.  Kendati fasilitas hotel sangat berkelas, ditambah akomodasi maupun konsumsi ditanggung panitia, tetap saja membuat kami kebingungan. Pasalnya, diantara kami berempat, hanya saya yang memiliki mata uang Euro. Itupun hanya 60 euro.
Jelas tidak akan cukup untuk menutupi kepentingan darurat.  Kendati kondisi hotel refresentatif namun kelemahanya tidak ada jaringan internet bebas (wi-fi). Yang ada justru warnet local yang dikelola hotel. Dan untuk ngenet setengah jam lamanya menghabiskan 5 euro (1 euro jika dirupiahkan sekitar 15 ribu). Padahal hubungan melalui internet sangat kami butuhkan untuk mengecek dimana keberadaan peralatan kami.
Sembari menunggu infomasi, akhirnya kami membuat rencana darurat. Jangan sampai kami gagal manggung. Selain membuat kecewa panitia juga untuk tetap menjaga nama baik Indonesia. Berawal dari keisengan saya yang selalu tertarik dengan daun kering. Akhirnya saya kumpulkan beberapa helai daun untuk membuat alat music sederhana, akhirnya, Wawan Ajen melihat beberapa jenis daun dapat dibuat wayang. Dan timbul ide membuat wayang dari daun kering.
Wawan Ajen yang memiliki keterampilan membuat wayang dari ilalang segera bereksperimen membuat tokoh Rahwana dan hanoman. Sedangkan saya membuat Rama dan Sinta. Tavif membuat Jatayu dan Dodong Kodir sibuk kesana kemari mencari sampah untuk didaur ulang menjadi Alat music. Yang sukses bereksperiman hanya bertiga. Sementara Dodong Kodir terpaksa menghentikan upayanya. Bukannya  tidak mampu, justru kelebihan seniman tua ini adalah mengolah sampah apapun menjadi alat music. Dodong terpaksa menyerah karena di sekitar hotel bahkan sampai pinggir jalan raya, tidak ada sampah yang ditemukan.
Inilah kontradiktif kedua antara Tenarife dan kota-kota wisata di Indonesia. Yaitu tentang Sampah. Di Tenarife tidak ada sampah yang berserakan. Sedangkan di Indonesia, sampah sangat merajalela.  Entah dimana para petugas sampah di Tenarife itu menimbun limbah manusia. Jika saja Dodong Kodir bisa berbahasa spanyol tentu masalah itu bisa selesai dengan bertanya kepada petugas hotel. Sayangnya bahasa Inggris petugas hotel umumnya jelek (apalagi kami) sehingga dialogpun sering salah tafsir. Hasilnya tentu saja miss understanding.
untungnya, Dodong segera mengalihkan sampah dengan sampah pohon. Beberapa alat music dapat diciptakan. Kendatii sederhana, namun untuk sementara dianggap dapat mewakili ketukan wayang.  Semua kegiatan kami, dilakukan di jembatan kecil yang menghubungkan setiap ruangan dan bangunan hotel. otomatis, gerak-gerik kami menjdi perhatian tamu-tamu lainnya. Apalagi kami selalu menyapa tamu yang lewat dengan kata “Ola” yang membuat mereka tersenyum dengan keramahan kami, dan akhirnya memperhatikan kegiatan kami.

Saat mereka melihat Wawan Ajen memainkan wayang daunditingkahi suara aneh dari alat music dodong kodir, mereka selalu terbengong-bengong. Baru setelah itu tersenyum kemudian memuji. Kami selalu menyebutkan bahwa kami adalah seniman Indonesia yang akan mengikuti festival di Gran Canary. Dan merekapun kembali ber-good-good ria. Sayangnya diantara sekian tamu yang memuji, tidak ada satupun yang berminat untuk membeli wayang daun kerasi dadakan kami ini dengan Euro. Padahal Wayang Daun yang kami bikin adalah karya mahal karena dibuat di Spanyol. (sambung)

Tags:
March-5-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS (2)

posted by Wawan Gunawan
GELISAH DI PULAU YANG INDAH

Catatan Pandu Radea  dari Festival International de Titeres de Canarias

Tiba di Madrid pukul 04.00 waktu Madrid (24/4). Di Madrid, waktu siang hari lebih panjang. Matahari terbenam  pukul  21.00 dan terbit pukul 07.30. Tim yang sudah kelelahan, kembali harus berurusan dengan bandara, menjalani pemeriksaan seperti biasanya.  Beruntung dari KBRI Madrid, Allen Simarmata (Kep.Bid. Penerangan) dan staffnya , Suyanto menyambut  kami di pintu bandara.  Langsung kami dijamu makan malam di sebuah resto bandara.  Resto ini ternyata berkonsep selfservis. Kembali penyakit katro no 2 menimpa saya. Menu makanan yang asing  membuat saya bingung dan harus berhati-hati karena daging babi bercampur disana sini. Satu-satunya yang aman adalah ikan dan telur.
Wawan Ajen yang terbiasa ke luar negeri sangat menikmati salmon bakar yang diidam-idamkan sejak di pesawat.  Ternyata Tarif makan satu porsi mencapai 10 euro. Jika dirupiahkan maka sama dengan 150 ribu. Tentu hal itu harga yang mahal bagi mata uang Indonesia.  Berhubung perut kenyang, maka Tapiv (atas restu kami semua) membuang kantong berisi makanan yang dibawa dari pesawat seperti hot dog dan kue pasta. Padahal makanan tersebut jika dirupiahkan harganya mencapai 250 ribu. Awalnya, makanan tersebut sengaja kami kumpulkan dari jatah makan di pesawat, untuk mengantisipasi jika di Madrid sulit menemukan makanan gratis.  Ternyata, restu kami kepada Tapiv berbuah penyesalan. 5 jam berikutnya terbukti perut kami kelaparan, tanpa ada yang mentraktir lagi dan jangan harap akan menemukan warteg !
Dari Madrid kami terbang 3 jam lamanya ke Tenarife, sebuah pulau wisata yang sangat indah, seperti halnya Pulau Bali di Indonesia. Di Bandara Tenarife, kegelisahan mulai menyergap tatkala 5 kotak peralatan pagelaran yang berisi wayang, lampu, alat music, termasuk perlengkapan pribadi tidak ada. Padahal tiket untuk peralatan tersebut sejak dari Jakarta telah di bawa lewat bagasi pesawat sampai tenarife. Alhasil,  di tempat bagasi tinggal kami berempat yang termangu-mangu, berkali-kali kami menanyakan ke pihak Iberia Air lines, ternyata mereka tidak menerima paket barang kami yang di over dari Qatar Air lines.
Berjam-jam menunggu, paket yang kami tunggu tidak juga ada, maka terpaksa kami meluncur ke penginapan yang telah disediakan panita. Mr. Nikolas yang menjemput kami di bandara turut menyesalkan keteledoran pihak maskapai Iberia Air Lines. Kami disarankan untuk menunggu di hotel saja, dan   masalah tersebut menurut dia akan diurus oleh panitia. Akhirnya dengan perasaan ketar-ketir kami menunggu di hotel Sol Paraque San Antonio, hotel tua bintang lima yang didirikan tahun 1960. Perjalanan menuju hotel ditempuh  1 jam lamanya dari bandara Tenarife. Keindahan pulau Tenarife  semakin nyata saat matahari bersinar. Arsitektur bangunan maupun infra stuktur lainnya betul-betul mencerminkan sebagai objek pariwisata kelas dunia.  Perpaduan antara pantai, laut dan gunung.
Di Jalan tol yang lengang dan bersih tidak ada gerbang tol apalagi papan reklame seperti di Indonesia. Nyaris semua wilayah seperti Santa Cruz, Puerto De La Cruz, merupakan dearah yang dipenuhi hotel-hotel berbintang. Kabarnya banyak milyader eropa yang meninvestasikan uangnya di Tenerife dengan membangun hotel-hotel mewah. Menurut Nikolas, adanya papan reklame akan membahayakan keselamatan karena dinggap mengganggu konsentrasi pngemudi. Namun yang jelas, sebagai daerah yag dimakmurkan oleh jutaan turis asing yang masuk ke Teanerife setiap tahunnya membuat pemerintah setempat tidak mengizinkan infra strukturnya di pergunakan untuk beriklan. Hal ini, sekali lagi, kontadiktif dengan kondisi di Indonesia yang justru mengembang-biakan iklan di tempat-tempat umum, cape deeh !
Keindahan Tenarife, belum dapat kami nikmati sepenuhnya. Bpaket penting berisi alat-alat pertunjukan belum juga datang. Akhirnya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk, kami berembug untuk menyiapkan rencana cadangan. Bagaimanapun juga, kami tidak ingin mengecewakan panitia yang sudah membiayai kami ke Spanyol. Dan jika pertunjukan perdana kami batal,maka sedikitnya akan mengurangi kredibilitas kami sebagai duta dari Indonesia.  kami tidak ingin itu terjadi. The show must go on. Harus dicari akal untuk mengatasi masalah itu. dan jurus pembukanya adalah bersikap tenang serta tidak panik. Dalam tekanan dan situasi yang terjepit, kami harus segera mendapatkan gagasan untuk menyelamatkan pertunjukan perdana kami nanti. (sambung)

January-25-10

FESTIVAL INTERNATIONAL DE TITERES DE CANARIAS 09

posted by Wawan Gunawan

Catatan Pandu Radea (1)

Go To Spain

Spring adalah musim yang indah. Semuanya tampak berwarna warni tatkala bunga-bunga liar bermekaran dan hijau dedaunan menghiasi setiap sudut tanah Eropa. Musim ini adalah musim yang tepat untuk kasmaran. Cerah matahari dan nyanyian beragam unggas mengisi siang yang terasa lebih panjang. Semuanya terlihat serba tersenyum. Pelayan restoran bersenandung kecil menyuguhkan makanan dan minuman terbaiknya, orang-orang tua asyik bernostalgia di taman-taman kota yang teduh, remaja-remaja menampilkan kekenesannya. Terpantul diatas jalan berbatu yang menjerumat gedung-gedung bergaya klasik. Inikah gerangan negeri matador ?

Tak terasa 8 jam lebih terbang di udara. Pesawat Qatar Air bus yang membawa Tim Wayang Ajen betul-betul terasa nyaman. Saya yang menderita penyakit takut ketinggian dan mengalami stress sejak naik pesawat sedikit perlahan lahan mulai melupakan pikiran buruk tentang pesawat terbang yang mogok mesin saat di angkasa. Naïf memang. Namun itulah penyakit yang membuat saya beberapa kali menolak tawaran Wawan Ajen untuk manggung ke luar negri.

Penyakit stress saya yang kedua adalah kegugupan saat pemeriksaan di bandara yang ketat dan berlapis-lapis. Beberapa kali saya merasa kikuk saat alat detector memeriksa seluruh tubuh. Kendati Wawan Ajen sudah mensimulasikan serta memberikan gambaran tentang kondisi tersebut sebelumnya namun tetap saja saya merasa katro. Apalagi saat pramugari cantik berdarah arab menanyakan potogan tiket ke Doha (Qatar) kontan saya panic karena tiket itu tidak ada dalam buku paspor yang selalu saya pegang melebihi jimat. Untungnya potongan itu ditemukan, nyelip di plastic jilid paspor dan sayapun bernafas lega tsetelah gugup selama 15 menit. Tak bisa dibayangkan apa jadinya jika potongan paspor itu betul-betul hilang.

Jam 22.00 WIB tanggal 23 April, Qatar Air bus tinggal landas. Dodong Kodir dan Tavip Lampung tampak menikmati betul perjalanan ke Spanyol kali ini. Bukan tanpa sebab, peralatan pagelaran wayang yang biasanya lebih dari 100 kg, kini hanya 82 kg. tentu saja itu meringankan tim yang hanya berjumlah 4 orang. untungnya lagi bagasi barang pertunjukan ditanggung sampai di Madrid, sehingga tim tidak kerepotan angkat jungjung setiap mau transit.

Pertama transit adalah di Singapura, negeri ini memang layak disebut sebagai Negara maju. Lantai ruang bandara saja seluruhnya dilapisi karpet tebal, motif elegan dan tentu saja mahal. Entah kapan Bandara Soekarno Hatta akan seperti itu. Di Singapura tim masih merasakan suasana Indonesia. Selain ditempuh hanya dengan setengh jam lamanya, bahasa Indonesia masih dipergunakan.

Kami transit di Doha. Dan harus menunggu 7 jam lamanya. Perbedaan waktu Indonesia dan Doha 4 jam lamanya. Selama menunggu, waktu dipergunakan untuk ngobrol ngaler ngidul, ternyata banyak juga orang Indonesia kami temui. Dan hal itu terjadi di ruang berasap alias smoking area. Di tempat itulah secara naluri kami berbincang-bincang. Beberapa bule turut nimbrung karena melihat dandanan kami yang seragam. Kami berdialog terpatah-patah, memahami pertanyaan mereka tentang wayang golek. Ternyata selain yes dan no, bahasa tarzan lebih efektif menjelaskan tentang wayang golek pada mereka.

Berkat bantuan Mr. Candra Tanuwijaya, rekan baru yang kami kenal saat menunggu transit, saya dapat mengirim berita ini dari Doha. Bukannya apa-apa, laptop adu milik kang Wawan Ajen yang selalu diagulkan ternyata tidak dapat mengkap wi-fi yang dipancarkan di ruang Bandara. Entah laptopnya yang salah atau memang saya yang gaptek ? yang jelas, saya harus berusaha untuk terus mengirim berita setiap hari. Jika laptop kang wawan tetap macet, maka pinjam adalah jurus terakhir.

Tags:
November-21-09

Wayang Ajen Indonesia Go To Perancis

posted by Wawan Gunawan

Setelah sukses tampil di Spanyol pada Festival International de Titeres de Canarias yang berlangsung pada bulan April –Mei 2009, Wayang Ajen akan manggung kembali di daratan Eropa, tepatnya di negara asal pesohor bola Zinedine Zidane, Prancis. Tim yang terdiri dari Wawan Ajen Gunawan (sutradara/dalang), Pandu Radea (Artistik & Musik dorector), Dini Irma Damayanthi (Penari Tradisi), Agus Sutandi (Musician) dan Karyana (musician) akan berada di Prancis sejak tanggal 4 sampai 18 Desember 2009.

Pagelaran Wayang Ajen di Prancis ini merupakan undangan khusus dari UNESCO melalui Association Nationale Cultures et Traditions (ANCT) Prancis untuk mengenalkan lebih luas lagi seni wayang Indonesia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO dalam program Introducing the Wayang Puppet Puppets Theatre as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage di negara Napoleon Bonaparte itu. Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
November-24-08

International Marionette Festival Hanoi 2008

posted by Wawan Gunawan

LAPORAN KEGIATAN WAYANG AJEN PARWA PUJANGGA

DALAM EVENT

“THE FIRST INTERNATIONAL MARIONETTE FESTIVAL”

16-24 FEBRUARI 2008, DI HANOI-VIETNAM

Pendahuluan

Ministry of Culture, Sports and Tourism Socialist Republic of Vietnam bekerjasama dengan The National Puppetry Theatre of Vietnam untuk yang pertama kalinya menggelar hajat besar berupa kegiatan “The First International Marionette Festival” tanggal 16-24 Februari 2008, di Hanoi-Vietnam.

The National Puppetry Theatre of Vietnam yang merupakan gedung teater wayang Vietnam, dijadikan sebagai pusat kegiatan selama berlangsungnya festival marionette Internasional. Fasilitas gedung pertunjukan yang representatif merupakan salah satu penunjang besar bagi suksesnya pelaksaaan kegiatan tersebut. Lebih dari itu pelayanan dan penanganan baik teknis maupun non teknis, telah dibuktikan oleh sikap profesionalisme kepanitiaan dengan jumlah yang sangat proporsional, meskipun dalam hal tertentu masih terdapat beberapa kelemahan yang dapat diatasi dalam waktu singkat.

Negara-negara peserta yang tampil dalam event festival tersebut adalah; Indonesia (Wayang Golek Ajen Parwa Pujangga), dan (wayang sandosa senauangi), Mesir ( Cairo Puppetry Theatre-Egypt), Belgium (Tof Theatre), Brazil (Morpheus Teatro 12), Israel (The Train Theatre), Philipina (Animo Shadowplay) dan (Tali Galaw), Thailand (Hobbpyhut Chiang Mai), Sweden (Staffan Bjorklunds Theatre), China (Jiangxi Province Puppet Trope), Singapura (Mascots and Puppets), Vietnam (Vietnam National Puppetry Theatre), (Thang Long Puppetry Theatre), (Ho Chi Minh City Puppetry Group), (Hai Phong Puppetry Group), dan (Dac Lac Puppetry Group). Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
November-24-08

Perjalanan Tim Wayang Ajen ke Yunani & Cyprus 2008

posted by Wawan Gunawan

PERJALANAN (1)

TIM WAYANG AJEN PARWA PUJANGGA

Dalam kegiatan

“THE TENTH INTERNATIONAL FESTIVAL PUPPET & MIME OF KILKIS YUNANI, 01-14 OKTOBER 2008,

PENDAHULUAN

Greek Republik Municipality of Kilkis Mr.Dimitrios Terzidis Walikota Kilkis Yunani bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Kilkis Mr. Juanjo Corrales sebagai artistik direktur untuk yang kesepuluh kalinya menggelar hajat besar berupa kegiatan “The Tenth International Festival Puppet & Mime of Kilkis Yunani” tanggal 01-14 Oktober 2008, di Gedung Teater Kota Kilkis.

Gedung teater yang merupakan pusat kebudayaan dan museum boneka internasional di Kilkis, dijadikan sebagai tempat kegiatan selama berlangsungnya festival Internasional puppet & Mime. Fasilitas gedung pertunjukan yang representatif merupakan salah satu penunjang besar bagi suksesnya pelaksaaan kegiatan tersebut. Terlebih dari itu pelayanan dan penanganan baik teknis maupun non teknis, telah dibuktikan oleh sikap profesionalisme kepanitiaan dengan jumlah yang sangat proporsional, meskipun dalam hal tertentu masih terdapat beberapa kelemahan yang dapat diatasi dalam waktu singkat. Read More/Baca Selengkapnya »

Tags:
November-17-08

Wayang Ajen lebih dari sekedar Wayang

posted by Wawan Gunawan

PERGELARAN wayang mempunyai segmen penonton yang khusus dan majemuk, lintas agama, lintas golongan, lintas strata sosial, bahkan lintas budaya. Sejak dulu, media wayang khususnya wayang golek dan wayang kulit tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga dijadikan sarana dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

PERGELARAN Wayang Ajen judul “Dewa Ruci Meruat Jagat” dengan dalang Wawan Gunawan di Teater Terbuka Taman Budaya (Dago Tea House) Disbudpar Jabar, Sabtu (25/8). Pertunjukan ini merupakan kolaborasi wayang dengan perangkat multidimensi yang diminati penonton dari dalam dan luar negeri.* RETNO HY/”PR”

Di akhir Agustus dan memasuki bulan September lalu, dalang Wawan Gunawan, yang lebih dikenal dengan sapaan Wawan Ajen, menggelar pertunjukan wayang ajen di dua tempat. Tempat pertama, Balai Taman Budaya (Dago Tea House) di Jalan Bukit Dago Selatan, yang dijadikan tempat pergelarannya. Dengan mengangkat cerita “Dewa Ruci Meruat Jagat”. Sementara di Radio Swara Jakarta, Kompleks Gedung AKA, Jln. Bangka Raya No. 2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, mengangkat lakon “Sarwakarna”, tafsir baru dari lakon wayang klasik “Karna Tanding”. Read More/Baca Selengkapnya »

Tags: