Kuncup Bunga Budaya di Jeonju Korea Selatan

Oleh Pandu Radea

Udara dingin kembali menyergap saat tim Wayang Ajen Keluar dari Bandara Incheon International Korea Selatan. Situasi ini seperti memutar rekaman perjalanan Wayang Ajen saat tampil di Prancis, Desember 2009. Ketika itu, pertama kalinya Wayang Ajen manggung di musim dingin. Dan kendala manggung dengan suhu seperti itu langsung dirasakan oleh Wawan Ajen. Pergelangan tanganya langsung didera rasa pegal dan linu. Hal ini jika dibiarkan tentu akan mengganggu performer dirinya saat memainkan wayang. Bahkan saat di Gannat, Wawan sempat dibawa oleh panitia ke dokter setempat untuk diobati. dan untuk meringankan sakitnya juga di bantu oleh anggota tim lainnya yang bertindak sebagai tukang urut dadakan.

Sebetulnya, saat ini di Korea Selatan memasuki awal spring. Namun tetap saja sisa-sisa udara dingin yang teramat menggigit masih menyelimuti negeri ginseng ini. Sekali lagi perubahan drastis dari suhu jakarta yang berkisar 29 derajat celcius menjadi 5 derajat celcius di Korea membuat tim Wayang Ajen kelabakan. Wawan Ajen pun merasa was-was, takut penyakitnya kumat lagi. Nyeri di persendiannya tergolong sudah akut.

Thomas dan Lee Yo Han sudah menunggu kami di bandara. Mereka berdua adalah panitia yang menjemput tim Wayang Ajen yang diundang tampil dalam Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea Selatan. Ini adalah event prestisius bagi Wayang Ajen, karena dalam festival ini, Wayang Ajen mewakili seni Wayang Indonesia yang sudah dinobatkan oleh Unesco sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity akan tampil bersama warisan budaya dunia takbenda lainnya, yaitu kesenian klasik dari Korea Selatan, India dan Jepang yang juga sudah dikukuhkan oleh PBB.

Tim Wayang Ajen yang berangkat dalam misi budaya ini yaitu Wawan Ajen (Dalang/pimpro), Pandu Radea (Art Director), Tavip Lampung (Dalang Wayang Tavip), Dini Irma Damayanthi (Penari/penyanyi), Ade Suparman (Music Director), Endang Amas (pemusik), dan Gaura Mancacaritadipura (official). Tim akan tinggal selama seminggu, yaitu dari tanggal 23-29 Maret 2010, dan dijadwalkan pentas sebanyak 2 kali yaitu hari Sabtu 27 Maret di Gyeonggijeon Special Stage (siang/outdoor) dan di Hanybyuk Theatre (malam/indoor)

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju ini mengambil tema  The Flower of Asia Pacific Intangible Culture Buds in Jeonju. Tema ini kontekstual karena selain diselenggarakan di musim bunga (spring), juga pertama kali diselenggarakan di Jeonju yang tengah mempersiapkan diri menjadi kota pertama yang dikukuhkan PBB sebagai kota warisan budaya dunia. Pemerintah Korea pun tidak main-main, rencana pembangunan untuk mewujudkan itu akan terus berlangsung sampai tahun 2013.

Selanjutnya, Jeonju akan menjadi wilayah PBB di Korea yang berfungsi sebagai etalase untuk memajang dan menampilkan keragaman budaya tradisional dari setiap negara yang akan diundang dalam berbagai event festival. Maka dengan demikian, reputasi Jeonju sebagai kota budaya tradisional dunia, akan tumbuh dan meningkatkan citra pariwisata Korea di dunia International. Dalam data base Asia Pacific Intangible Cultural Heritage yang dikeluarkan oleh Asia Pacific Cultural Centre for Unesco terdapat 15 jenis Seni Pertunjukan tradisi Korea yang tercatat sebagai intangible cultural heritage. Sedangkan Indonesia baru 10 jenis yang sudah tercatat.

Seni Kutiyattam dan Cheoyengmu

Banyak surprise yang dirasakan Tim Wayang Ajen Indonesia saat tiba di Jeonju. Seperti halnya pelayanan panitia festival yang begitu bersahabat. Mereka memang dipersiapkan untuk selalu memunculkan citra positif bagi setiap peserta festival. Wayang Ajen ditempatkan disebuah komplek bangunan tradisional yang disebut Hanok Village. Ini merupakan perkampungan tradisional di Jeonju yang dibentuk oleh kaum cendekiawan sekitar tahun 1930-an. kini jumlahnya hanya 800 bangunan saja. Ruang dan arsitekturnya mirip rumah tradisi Jepang, tidak ada kursi, apalagi tempat tidur besi. Serba ngampar. Yang menarik adalah sistem pemanas ruangan. Tidak seperti bangunan di eropa, pemanas ruangan di Hanok Village disalurkan melalui lantai bangunan.

Demikian pula situasi dan kondisi kota Jeonju yang asri, indah dan bersih, masyarakatnya telah memiliki kesadaran untuk turut mensukseskan program budaya yang dicanangkan oleh pemerintahnya. kota ini juga banyak menyimpan peninggalan bangunan bersejarah yang penting dan tetap terpelihara dengan baik. Sebelum pentas, Tim wayang Ajen yang selalu didampingi oleh Ny.Kim dan Hannah, banyak diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti, Joenju Gaeksa, Istana Gyeonggijeon, Songgwang Temple, dan Poong Nap Moon Gate. Selain itu, kami diajak menikmati berbagai makan khas Korea di restoran yang berbeda-beda.

Tiga hari kami menikmati kota Jeonju. Dan dua malam kami dapat menyaksikan pertunjukan dari Korea, India dan Jepang. satu malam ada dua pertunjukan di Hanybyuk Theatre. Pertunjukan pertama yang kami apresiasi adalah Kutiyattam dari Krala, India. Kesenian ini merupakan teater kuno yang usianya sudah 2000 tahun. Sampai saat ini masih menggunakan bahasa sangsekerta. Mereka tampil dalam lakon Kalyana Saughandikam, ceritanya dan perfomanceya sederhana tentang pertemuan Bima dan, namun sulit untuk ditafsirkan begitu saja. Banyak bahasa gerak, gestur, mimik dan simbol-simbol lainnya yang rumit.

Ada sebuah perbedaan yang ternyata menjadi persamaan. Idealnya tokoh yang ada dalam Ramayana dan Mahabarata merupakan tokoh terpisah. Dua kitab itu dianggap tidak memiliki hubungan yang berkaitan. Jadi, Hanoman yang merupakan tokoh di Ramayana sebetulnya tidak mungkin ketemu atau dicampurkan dengan Bima yang ada dalam Mahabarata. Namun dalam Kutiyattam hal itu terjadi, pun demikian dalam Wayang Ajen, Lakon Dewa Ruci yang dipersiapkan, juga menghadirkan Hanoman dan Bima. Ini juga menjadi diskusi yang menarik antara tim Wayang Ajen dan Group G.N Venu yang memainkan Kutiyattam.

Usai Kutiyattam, giliran Seni Cheoyongmu dari Korea. Seni ini ditetapkan sebagai Important Intangible Cultural Property No.39. Ini juga seni kuno yang menitikberatkan pada tarian penuh simbol. Penarinya 5 orang melambangkan arah mata angin. Konsepnya sama dengan filosofis papat kalima pancer. Menyaksikan 2 pertunjukan klasik itu, nyaris semua penonton menjadi senyap. Ada dua kemungkinan yang membuat pertunjukan menjadi senyap, penontonya tertidur atau memang khusyuk berapresiasi. Yang jelas dua pertunjukan itu memang terasa monoton.

Mengikuti festival ini, bagi Wayang Ajen seperti mengulang catatan lama. Wawan mengisahkan bahwa sebelum Wayang Indonesia dianugrahi sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity tahun 2003, Wayang Ajen banyak berkiprah memperkenalkan seni wayang Indonesia di beberapa negara Eopa. Menurut Wawan, sedikit banyak Wayang Ajen mempunyai andil yang tidak sedikit sehingga Unesco menganugrahi Wayang Indonesia seperti yang disebutkan di atas

Wayang Ajen Indonesia, The Best Performer

Dua pertunjukan Wayang Ajen tanggal 27 Maret dilaksanakan dalam ruang dan waktu berbeda. Siang hari kami tampil di Gyeonggijeon Special Stage. Awalnya kami tidak tahu jika akan pentas siang hari. Ada beberapa kendala yang tidak bisa disiasati. Yang paling prinsip adalah Wayang Tavip tidak mungkin ditampilkan karena wayang pengembangan dari konsep wayang kulit ini mengandalkan effeck bayang-bayang dari lampu yang dirancang khusus. Jadi, harus gelap. Namun untuk memenuhi jadwal akhirnya kami tampil juga. Seketika kami membuat lakon carangan tentang si Cepot belajar memanah. Pertunjukan menjadi komedi sepenunya. Wawan Ajen banyak memainkan bahasa gerak yang lucu. Sesekali dialog menggunakan bahasa Inggris dan Korea, yang sebelumnya kami translate terlebih dulu.

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Penonton yang sebagian besar adalah wartawan, fotografer dan masyarakat pun terpuaskan. Ternyata pertunjukan siang hari ini menjadi semacam publikasi dan informasi bagi masyarakat unutuk menonton pertunjukan sebenarnya. Semua kesenian yang diundang di Festival ini memang juga diagendakan tampil siang hari. Dan itu berdampak besar bagi Wayang Ajen, menurut Lee Yo Han, panitia yang juga mengurus marketing, ternyata tiket untuk Pertunjukan Wayang Ajen sudah habis 1 hari sebelumnya. Bahkan banyak yang waiting list.

Malam harinya, setelah pertunjukan klasik Namsadang Play (Boneka Tradisi Korea), giliran kami unutk tampil. Hanya 10 menit kami diberi kesempatan untuk mempersiapkan panggung. Untung saja, semua peralatan sudah di susun sejak sore hari. Kami tinggal memindah ke areal panggung yang lantainya sudah ditandai untuk setiap itemnya. Sehingga Jagat, janturan wayang, alat musik dan layar Wayang Tavip, semuanya selesai dikerjakan hanya dalam waktu 8 menit.

Pertunjukan pun berjalan dengan baik. Wawan Ajen mampu menunjukan kemampuan terbaiknya. Dalang asal Ciamis peraih 2 kali medali emas dalam festival boneka sedunia di Bangkok dan Hannoi tahun 2004 dan 2008 ini, mampu menjalin komunikasi dengan penonton. Lagi-lagi si Cepot menjadi bintang. Aksinya akhirnya memecahkan kesunyian di Hanybyuk Theatre yang malam-malam sebelumnya terasa senyap oleh berbagai pertunjukan kesenian yang rata-rata tidak memiliki sifat interaktif dengan penonton.

Lebar layarWayang Tavip mampu menjembatani luas ruangan. Wayang Tavip pun memunculkan beberapa jenis wayang Indonesia. seperti Wayang Kulit Jawa dan Wayang Kulit Indramayu. Dua jenis Wayang ini sebetulnya tidak jauh berbeda. Cuma sengaja ditampilkan untuk menunjukan keberagaman seni Wayang Indonesia. Apalagi Wayang Kulit Indramayu keberadaanya nyaris punah. Selayaknya diperkenalkan kembali.

Mau tidak mau ini adalah penyiasatan dari personel yang terbatas. Gending wayangpun hanya dimainkan oleh dua buah kecapi dan satu set kendang. Kendati demikian, Ade Suparman dan Endang Amas bermain maksimal. Dini pun demikan selain menari jaipongan dirinya juga menyanyi. Dan saya, selain menata artistic, juga memainkan perkusi sekaligus menjadi catrik dalang.

Pertunjukan diakhiri dengan indah ketika Sicepot mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Korea berjudul Arirang. Lagu ini adalah lagu penting bagi masyarakat Korea. Akhirnya ruanganpun penuh dengan senandung penonton yang terbeli hatinya. Kami tersenyum puas. Dan semakin puas ketika panitia, berdasarkan animo penonton, menyatakan bahwa Tim Wayang Ajen Indonesia menjadi the best performer. Tanggal 29 kami akhirnya pulang dengan bangga. Sedikitnya nama Indonesia melalui seni Wayangnya akhirnya dikenal luas di Jeonju. Tidak berlebihan, karena bulan September tahun ini, mereka akan mengundang kembali Wayang Ajen Indonesia untuk tampil di Korea.

Tags:

Comments are closed.