November-17-08

Wayang Ajen lebih dari sekedar Wayang

posted by Wawan Gunawan

PERGELARAN wayang mempunyai segmen penonton yang khusus dan majemuk, lintas agama, lintas golongan, lintas strata sosial, bahkan lintas budaya. Sejak dulu, media wayang khususnya wayang golek dan wayang kulit tidak hanya menjadi sarana hiburan semata, tetapi juga dijadikan sarana dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.

PERGELARAN Wayang Ajen judul “Dewa Ruci Meruat Jagat” dengan dalang Wawan Gunawan di Teater Terbuka Taman Budaya (Dago Tea House) Disbudpar Jabar, Sabtu (25/8). Pertunjukan ini merupakan kolaborasi wayang dengan perangkat multidimensi yang diminati penonton dari dalam dan luar negeri.* RETNO HY/”PR”

Di akhir Agustus dan memasuki bulan September lalu, dalang Wawan Gunawan, yang lebih dikenal dengan sapaan Wawan Ajen, menggelar pertunjukan wayang ajen di dua tempat. Tempat pertama, Balai Taman Budaya (Dago Tea House) di Jalan Bukit Dago Selatan, yang dijadikan tempat pergelarannya. Dengan mengangkat cerita “Dewa Ruci Meruat Jagat”. Sementara di Radio Swara Jakarta, Kompleks Gedung AKA, Jln. Bangka Raya No. 2 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, mengangkat lakon “Sarwakarna”, tafsir baru dari lakon wayang klasik “Karna Tanding”.

Banyak hal yang menarik dari kedua pergelaran kreator pedalangan ini. Wayang ditampilkan secara apik dengan tata konsep garap pertunjukan wayang golek secara multiteatrikal. Meski pergelaran dikemas dalam durasi tidak lebih dari 60 menit, akan tetapi banyak menuntut kejelian sang kreator dalam menata dan membangun ruang media pentas yang dihadirkan.

Sangat jauh berbeda dengan pergelaran tiga tahun lalu di tempat yang sama (Dago Tea House), wayang ajen yang selama ini dikenal sebagai bentuk pertunjukan wayang kontemporer, dalam gaya penyajiannya sarat dengan idiom-idiom baru yang terasa aneh di wilayah otoritas wayang konvensional (tradisi). Wayang ajen dengan posisinya sebagai bentuk pertunjukan alternatif, tidak tanggung untuk menghadirkan kekuatan ekspresinya dengan menggunakan media lain di luar wayang. Antara lain gerak tarian manusia yang muncul dalam adegan tertentu sebagai background-nya.

Landasan rancang bangun konsep garapnya tidak hanya mengutamakan konsep secara pertunjukannya, tetapi konsep penentuan media yang dijadikan peragaan, dalam hal ini adalah wayang golek (boneka kayu). Wayang tokoh-tokoh tertentu, dirancang berdasarkan konsep anatomi-morfologi wayang yang dapat memperkuat karakteristik penokohan. Lebih tampak adu kuatnya antara gelap terang secara konsep nirmala yang terletak pada komposisi warna, garis, dan rias ukir makuta wayang. Perpaduan gelap terang pewarnaan nampak seimbang (balance) terlebih apabila didukung oleh tata pencahayaan (lighting) panggung yang memadai.

**

DALAM pagelaran wayang ajen “Dewa Ruci Meruwat Jagat”, di Dago Tea Hose, Wawan selaku dalang, dibantu Arthur S. Nalan selaku sutradara, Suhendi Afriyanto (penata musik), Manggada dan Pandu Radea (penata artistik), Dodong Kodir (ilustrasi musik), Niko Panjalu (penata cahaya), Mahesa Jamjam (animator), serta Masyuning selaku panembang, mencoba menyampaikan pesan-pesan moral leluhur yang saat ini mulai diabaikan. Sosok Bima (Werkudara) salah seorang putra Pandawa yang dikenal jujur, gagah berani membela yang lemah, digambarkan secara lugas melalui wayang golek maupun siluet di bentangan kain layar.

Sementara di Radio Swara Jakarta, bersama Ki Bambang Asmoro, Wawan Ajen berkolaborasi dalam pergelaran yang menggabungkan idiom wayang kulit dan wayang golek. Keduanya tidak hanya sekadar pentas barsama antara dalang wayang kulit dan wayang golek, tetapi mengusung konsep dan visi yang sama dan menyatu dalam satu garapan lakon “Sarwa Karna atau Karna Tanding”. Kedua dalang jebolan perguruan tinggi seni ini, sangat kompak dalam menyajikan sebuah garapan wayang baru, penggabungan dari wayang kulit dan golek dengan didukung beberapa unsur.

Ki Wawan Ajen mengedepankan wayang teknologi, pemanfaatan multimedia, laptop, infocus untuk membangun suasana pengadegan yang lebih mengesankan. Sebagai materi garapan kolaborasi juga dihadirkan beberapa seni lain seperti tari, bodoran (topeng Bekasi), bintang tamu Endra Utami, animasi, serta garapan gending diatonis yang ditumpangi dengan musik pentatonis.

Dalam dua pergelaran Wawan Ajen tersebut, konsep adu kuat dalam harmoni antara bentuk wayang golek yang surealis dan gerak tarian manusia yang realis-stylis, semata-mata hadir sebagai sebuah kebutuhan ekspresif di samping kebutuhan estetis. Dalam batas area kehausan kreativitas sebuah karya seni, tidaklah mengagetkan karena itu dipandang sebagai wilayah otoritas kreator dalam mengungkapkan pengalaman estetisnya.

Konsep wadasan yang merupakan salah satu keunikan dan kekuatan filosofis dari genre Mega Mendung Cirebon, sangat dominan dalam tata warna wayang golek ajen. Wadasan yang sering kita kenal dalam lukisan kaca gaya Cirebon, dijadikan sumber inspirasi oleh Wawan dalam merancang bentuk ukir dan pewarna makuta (mahkota) wayang.

Hubungan harmoni antara mega yang memiliki simbol sebagai pelindung yang di atas dan wadasan berupa cadas yang memiliki simbol titincakan (alas, dasar yang kuat). Oleh karena itu, konsep pemberangkatan wayang ajen dengan mengangkat genre wadasan-mega mendung dapatlah disimpulkan bahwa sebuah pemberangkatan hendaklah didasari oleh titincakan (dasar fondasi) yang kuat, di samping penyangga (penopang) juga yang kuat pula. Berangkat dari kekuatan bentuk dan makna filosofis itulah konsep anatomi-morfologi wayang ajen dapat dinikmati sebagai karya seni rupa (tidak sekadar alat peraga).

Memang, wayang ajen merupakan suatu bentuk seni pedalangan yang lahir dari kreativitas seorang Wawan Gunawan selaku akademisi lulusan Akademi Seni Tari Indonesia (kini STSI) Bandung dan ISI Yogyakarta. Sebuah karya yang lahir sesuai dengan daya imajinasi keintelektualannya, di mana dirinya berupaya melepaskan diri dari pakem wayang yang sudah ada dan hingga kini masih dilaksanakan oleh sejumlah dalang wayang golek maupun wayang kulit.

Wawan sendiri mengatakan, kalau wayang ajen merupakan refleksi dari perenungan dan proses kreatif dirinya dalam berkesenian. Apa yang diperolehnya dari renungan-renungan inilah yang mendorongnya membuat kreasi yang inovatif.

**

KONSEP wayang ajen sendiri diakuinya sebagai upaya membaca kembali tradisi dengan cara modern dan tafsir baru atas tradisi wayang golek, melalui pengembangan-pengembangan kreatif pada sajian pertunjukannya sebagai upaya agar wayang golek bisa diapresiasi oleh semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali.

Keinginan tersebut kiranya sangat beralasan bilamana melihat latar belakang pria kelahiran Ciamis Jawa Barat, 11 Desember 1969 ini. Selepas pendidikan SD dan SMP di Panumbangan Ciamis, Wawan melanjutkan ke Sekolah Menengah Karawitan (SMKI) Bandung Jurusan Pedalangan dan lulus tahun 1989. Ia melanjutkan ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung Jurusan Karawitan lulus tahun 1992. Lalu menimba ilmu di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jurusan Seni Pedalangan dan lulus tahun 1995.

Selain itu, niatnya untuk mendalami seni pedalangan didapatnya melalui pendidikan nonformal, di antaranya menimba ilmu pada Ki Dalang Suwita di Ciamis, Ki Dalang Elan Surawisastra (Bandung), di Padepokan Giri Harja 5 pada Ki Dalang Iden Subasrana Sunarya, dan pada Ki Dalang R.H. Tjetjep Supriadi di Padepokan Panca Komara Karawang.

“Jadi sangat wajar kalau saya berkeinginan agar seni pedalangan atau seni pewayangan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Wawan.

Wayang ajen mengolah tradisi wayang golek konvensional menjadi bentuk baru atau alternatif yang disebut wayang pengembangan. Wayang inovasi baru yang terdiri dari bahan kayu, kulit, dan fiber (kakufi) diramu dengan memasukkan unsur pembaharuan multimedia.

Kemunculannya menjadi fenomena menarik, sebagai dalang yang lahir dari kalangan akademisi, Wawan tampak berupaya melahirkan sesuatu yang baru sesuai dengan nalar intelektualnya. Misalnya mencoba melepaskan diri dari kebekuan pakem, yang selama ini menjadi kendala mengapa wayang golek sulit berkembang mengikuti dinamika apresiasi masyarakat penonton wayang golek sebagai habitat tempat hidupnya.

Diakui Wawan, kemampuan cabak, garap maupun antawacana, sebetulnya tidak terlalu menonjol bila dibandingkan dalang kesohor saat ini. Sejauh ini, dia belum mampu menyamai kepiawaian Ade Kosasih dalam hal suara (antawacana) saat membawakan tokoh wayang. Atau dalang Asep Sunandar yang dikenal dengan cabak-nya dan Dede K. Sutarya sebagai dalang garap.

Namun, berkaitan dengan variasi dialog (paguneman) serta variasi suara wayang (antawacana), perlu diakui Wawan memiliki keunggulan. Demikian pula dengan upayanya untuk membangun tata pentas atau pakeliran yang mengarah pada artistik teaterikal, menjadi kelebihan Wawan dalam mementaskan wayang ajen.

Ketua STSI Bandung, Arthur S. Nalan. S.Sen. M.Hum., yang juga bertindak sebagai sutradara/ literatur manajer pergelaran “Dewa Ruci Meruat Jagat”, mengatakan, kehadiran Wawan sebagai dalang merupakan fenomena baru dalam dunia pedalangan. Keberaniannya melakukan eksperimen untuk melakukan kolaborasi berbagai bentuk seni tradisional ke pentas wayang golek yang pada habitatnya begitu sarat dan ketat oleh pakem dan pancacuriga pedalangan, merupakan hal yang sangat jarang. Bahkan baru Wawan yang melakukannya.

Selain peran multimedia sebagai pendukung visualisasi, artistik, serta musikalisasi, yang juga tidak kalah menarik dari wayang ajen adalah bahasa nyandra, kakawen maupun paguneman yang pada mulanya sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Kawi, diubah dengan sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda yang sarat dengan nilai sastra.

Hal ini diserapnya dari Abah Sunarya, Elan Surawisastra (Mama Elan), dan Jamar Media, yang dalam paguneman sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda yang murwakanti, serta sepenuhnya mentransfer filsafat Ki Sunda. Sedangkan dalam kakawen (pendahulu), Wawan masih mengunakan bahasa Kawi (Jawa Kuno). “Karena pada umumnya dalang sepuh pada masa lalu memang menggunakan bahasa Sunda lulugu dan diyakini sebagai bahasa indung orang Sunda,” ujar Arthur.

Gaya pertunjukan wayang ajen yang merupakan tren baru dari bentuk pertunjukan wayang golek pada umumnya, kini mulai merambah kepada gaya pertunjukan wayang golek tradisi yag dipergelarkan oleh dalang-dalang lain, seperti bentuk bedripan (kilas balik) pada adegan awal, penambahan media bantu seperti kain layar sebagai background dan lainnya.

Dengan mencermati kondisi dunia kreativitas seni pedalangan saat ini, diharapkan semangat kreativitas seniman pedalangan tidak melempem terjebak dalam salah interpretasi tradisi.

“Selain itu, warna dan gaya pedalangan tidak hanya mengultus pada satu titik genre saja, tetapi banyak titik-titik lain yang lebih memungkinkan untuk digali dan ditemukan sebagai sesuatu yang baru dalam sebuah kreativitas berkesenian. Tentunya tanpa lali dateng purwa daksina adalah tradisi sebagai cadas (dasar) pemberangkatan,” ujar Arthur S. Nalan. (Retno HY/”PR”)***

Sumber: Pikiran Rakyat

Tags:

Add A Comment

You must be logged in to post a comment.