26-November-12

Wayang Ajen @Wayang Summit 2012

posted by Wawan Gunawan



Tags:
9-April-12

Brosur Wayang Ajen Sanggar Parwa Pujangga

posted by Wawan Gunawan
Tags:
22-November-11

Wayang Ajen Performance Videos

posted by Wawan Gunawan

Heureuy Emban

Tari Gatot Kaca

Tari Cakil

Arjuna Vs Cakil

Tari Maktal

Perang Tanding Gatotkaca

Bobodoran Baduy

Heureuy Buta

Cepot Vs Buta

Cepot Gokil

Kolaborasi Wayang Ajen dan Wayang Tavip

Tari Jaipong Bajidor Kahot

Tags:
9-July-11

Wayang Ajen Concert, Live in Marrakash

posted by Wawan Gunawan

Yayasan Putro Pendowo dengan bangga mempersembahkan

Konser Wayang Golek Ajen

Ki Dalang Wawan Ajen

dengan Lakon

“Gatutkaca Jumeneng Raja”

Tgl 15 Juli 2011, mulai pkl 20.00

Plaza Square, Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara

Kota Bekasi

Tags:
15-February-11

WAYANG GOLEK AJEN- ISHARA FESTIVAL

posted by Wawan Gunawan

Theatre Two shows from Indonesia have wooden puppets recreating tales from the Ramayana. P. ANIMA reports

ON A STRING The puppet cast of “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran”; Ki Dalang Wawan Gunawan

ON A STRING The puppet cast of “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran”; Ki Dalang Wawan Gunawan

Related

PHOTOS

T wo pivotal episodes from the Ramayana — a besotted Sita urging her husband Ram to get her the golden deer which finally ends in her abduction, and later Sita in Ashoka Vatika, waiting for Ram to overpower Ravana and set her free — will be enacted, keeping abreast the drama, by wooden puppets. The titles of the two productions from Indonesia, “Penculikan Dewi Sinta – Sita Haran” and “Gugurnya Rahwana — Death of Ravana”, may sound incongruous until one lingers at the syllables, but vouch to tell a familiar tale when they will be staged at the Ishara International Puppet Festival unveiling on Friday.

Performed by Ki Dalang Wawan Gunawan and his troupe, the two performances peopled by wooden and rod puppets aim to be visual splendour, replete with puppets dressed in traditional Indonesian attire and swaying to traditional music. In an e-mail interaction, Wawan Gunawan says stories from the myths are still popular in Indonesia and puppetry still a thriving art.

The story of Sita’s abduction and Ravana’s death continues to be told often, says Wawan Gunawan.

“These stories are very popular among puppet lovers especially in Java island, which includes west, central and east Java, and also the island of Bali. The plays are often performed by the puppet masters,” he adds.

The performance form, Wayang Golek Ajen, evolved from the more traditional Indonesian theatre — Wayang Golek (wooden puppets) Sunda, he informs. The contemporary form sticks to a structured plot with each performance rolling out as a “unique presentation of dramatic art” and the audience given the freedom to decode the symbols and emotions. A lot of colour marks a Wayang Golek Ajen show.

“Wayang Ajen was born from an awareness among the younger generation regarding the traditional Wayang Golek Sunda and is an attempt at reading traditions in a modern way to produce something different. The structure of a Wayang Golek Sunda performance was recreated along the lines of modern theatre using a dramaturgical conceptual approach,” says Wawan Gunawan, who is said to have developed the new form with Arthur S. Nalan.

“Wayang Ajen aims to provide an alternative style of performance, especially for the appreciation of the younger generation, wherein we can see our own reflections,” he says.

Scripts are composed based on the Mahabharata and the Ramayana and are artistically packaged to form capsules with moral messages that are more actual and contextual, rather than historical.

Puppetry, says Wawan Gunawan, is still perceived as a tool to spread the philosophy of life and values. The art, he adds, brings together a range of artisans, from the wood carvers, designers and painters to costume and accessory makers. While a typical Wayang Ajen show unravels to the accompaniment of Gamelan music played by around 30 musicians with instruments like saron, peking and rebab, it is only a team of three — one puppeteer and two musicians — who will make it to the Ishara show. “What can we do? Some of the things are very heavy, but this is art,” says Wawan Gunawan.

http://www.thehindu.com/todays-paper/tp-features/tp-metroplus/article1151057.ece

Tags:
29-January-11

Wayang Golek Ajen Goes To India

posted by Wawan Gunawan

Wayang Golek Ajen, telah diundang secara resmi oleh Mr. Dadi P. Pudumjee (Presiden UNIMA dunia) sebagai direktur The Ishara Puppet Theatre Trust India untuk mengikuti The 9th ISHARA INTERNATIONAL PUPPET THEATRE FESTIVAL di N-Delhi India,tanggal 03 - 09 Februari 2011. Festival ISHARA akan diikuti oleh peserta dari 8 negara, seperti: India, Italia, Ukrania, Israel, Indonesia, Iran, Spanyol, dan Turky. Tim Wayang Golek Ajen akan berangkat ke India tanggal 03 Februari 2011 dengan pesawat Thai Airway. Wayang Golek Ajen dijadwalkan pentas tanggal 5 & 7 Februari 2011 di Stien Auditorium India Habitat Centre, New Delhi. Lakon yang akan disajikan dari kisah RAMAYANA, yaitu “Sinta Ilang” dan “Rahwana Gugur”. durasi pentas 60 menit. Tim Wayang Golek Ajen Indonesia: (Wawan Ajen: dalang/penulis naskah/sutradara; Dedi Budiman: Penata Musik; Cucu Mahyana: Pemusik), rencana didukung oleh Mr.Amb.Samodra (Presiden UNIMA Indonesia, KBRI di India, dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di New Delhi- India. Semoga. http//www.wayangajen.com

Tags:
5-November-10

WAYANG GOLEK AJEN DI PRAHA

posted by Wawan Gunawan

KOMPAS

Wayang Ajen di Kampung Merdeka, Praha

Kamis, 19 Agustus 2010 | 15:45 WIB

DSC01741.JPG

LONDON, KOMPAS.com–Pergelaran Wayang Golek Ajen untuk pertamakalinya dipentaskan pada acara “Gempita Kampung Merdeka” memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-65 Republik Indonesia (RI) di Kedutaan Besar RI (KBRI) Praha,. Ceko.

Penampilan Wawan Gunawan dan rombongan kesenian dari Jawa Barat ini mampu memikat lebih dari seribu penonton yang memadati halaman KBRI Praha, ujar Kuasa Usaha Ad Interim/Counsellor Penerangan, Sosial dan Kebudayaan (Pensosbudpar) KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, dalam keterangan persnya yang diterima ANTARA News London, Kamis.

Meskipun mendung terus menggayut, namun para penonton tetap bertahan melihat acara Gempita Kampung Merdeka sampai selesai di halaman KBRI Praha, Ceko yang disulap dengan berbagai hiasan tradisional seperti layaknya hajatan di Indonesia.

Rangkaian acara diawali dengan sambutan Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Praha, Azis Nurwahyudi, yang menjelaskan tujuan kegiatan Gempita Kampung Merdeka sebagai bagian dari promosi budaya Indonesia dan rangkaian peringatan HUT RI ke-65.

Acara tersebut sekaligus penyerahan Piagam Penghargaan Bintang Jasa Pratama dari Presiden RI kepada Prof. Zorica Dubovska, yang telah mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia di Ceko lebih dari setengah abad.

Raka Pamungkas dan Sona Cermakova memandu acara dalam Bahasa Indonesia dan Ceko tampil kompak mengatur jalannya acara. Tari Merak, Topeng Klono, Jali-Jali dan pertunjukan gamelan dengan lagu-lagu daerah bumi Parahyangan mampu memikat penonton hingga bertahan sampai akhir.

Tidak saja kesenian dari Jawa Barat yang malam itu ditampilkan di acara Gempita Kampung Merdeka. Tari Wiranata dari Bali ditampilan oleh Michal Mach, sementara gamelan Bali pimpinan John Adams juga tampil dengan lagu Bapang Slisir. Keduanya adalah mantan penerima Beasiswa Darmasiswa dari ISI Denpasar,

Selain menampilkan tari-tarian, juga dipamerkan foto foto kehidupan masyarakat Jawa Barat karya Rai Bachtiar Drajat yang mengusung tema Air, Bumi dan Aku, serta pemutaran dokumenter film pendek berjudul Upacara Ngalangsak untuk menghormati Dewi Sri sebagai dewi kesuburan.

Desiner Batik dari Bandung, Dr. Tetet Cahyati, memamerkan puluhan karyanya , selain itu juga ditampilkan peragaan busana bersama desiner kebaya Ira Marina yang dibawakan oleh sejumlah model dari Ceko.

Penampilan Wayang Golek Ajen merupakan puncak acara malam itu. Penampilan dalang Wawan Gunawan dari Kota Bekasi, Jawa Barat menyedot perhatian pengunjung sampai anak-anak yang turut tertawa melihat penampilan lucu Cepot dan Dawala.

Wawan Gunawan yang mengambil cerita kisah Rama dan Shinta, mampu membuat masyarakat Ceko tidak beranjak sampai acara ditutup.

Selama acara berlangsung, tampak ratusan pengunjung antri membeli Bakso, kolak, asinan, dadar gulung, pastel, tanaman bumbu dapur Indonesia dan aneka suvenir tradisional yang dijual masyarakat Indonesia di Praha.

Koordinator acara, Meitria Malkova, mengatakan Gempita Kampung Merdeka tersebut banyak mendapat respon positif dari berbagai kalangan di Ceko. Beberapa peminat Batik langsung memborong kain-kain yang diperagakan. Dirinya juga dihujani berbagai pertanyaan tentang Jawa Barat oleh para pengunjung.

Sementara itu, Ibu Deri Kiemas yang pengusaha dari Bandung selaku pihak membantu terlaksananya kegiatan tersebut  mengatakan kebahagiaannya dapat mempromosikan Jawa Barat di hadapan lebih dari seribu pengunjung yang sebagian besar masyarakat Ceko, terutama untuk acara penting seperti peringatan HUT RI.

Penulis: Jodhi Yudono   |   Editor: Jodhi Yudono   |   Sumber : ANT

Tags:
10-April-10

Behind The Scenes “Wayang Ajen In Korea 2010″

posted by Wawan Gunawan

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea

Tags:

Kuncup Bunga Budaya di Jeonju Korea Selatan

Oleh Pandu Radea

Udara dingin kembali menyergap saat tim Wayang Ajen Keluar dari Bandara Incheon International Korea Selatan. Situasi ini seperti memutar rekaman perjalanan Wayang Ajen saat tampil di Prancis, Desember 2009. Ketika itu, pertama kalinya Wayang Ajen manggung di musim dingin. Dan kendala manggung dengan suhu seperti itu langsung dirasakan oleh Wawan Ajen. Pergelangan tanganya langsung didera rasa pegal dan linu. Hal ini jika dibiarkan tentu akan mengganggu performer dirinya saat memainkan wayang. Bahkan saat di Gannat, Wawan sempat dibawa oleh panitia ke dokter setempat untuk diobati. dan untuk meringankan sakitnya juga di bantu oleh anggota tim lainnya yang bertindak sebagai tukang urut dadakan.

Sebetulnya, saat ini di Korea Selatan memasuki awal spring. Namun tetap saja sisa-sisa udara dingin yang teramat menggigit masih menyelimuti negeri ginseng ini. Sekali lagi perubahan drastis dari suhu jakarta yang berkisar 29 derajat celcius menjadi 5 derajat celcius di Korea membuat tim Wayang Ajen kelabakan. Wawan Ajen pun merasa was-was, takut penyakitnya kumat lagi. Nyeri di persendiannya tergolong sudah akut.

Thomas dan Lee Yo Han sudah menunggu kami di bandara. Mereka berdua adalah panitia yang menjemput tim Wayang Ajen yang diundang tampil dalam Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea Selatan. Ini adalah event prestisius bagi Wayang Ajen, karena dalam festival ini, Wayang Ajen mewakili seni Wayang Indonesia yang sudah dinobatkan oleh Unesco sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity akan tampil bersama warisan budaya dunia takbenda lainnya, yaitu kesenian klasik dari Korea Selatan, India dan Jepang yang juga sudah dikukuhkan oleh PBB.

Tim Wayang Ajen yang berangkat dalam misi budaya ini yaitu Wawan Ajen (Dalang/pimpro), Pandu Radea (Art Director), Tavip Lampung (Dalang Wayang Tavip), Dini Irma Damayanthi (Penari/penyanyi), Ade Suparman (Music Director), Endang Amas (pemusik), dan Gaura Mancacaritadipura (official). Tim akan tinggal selama seminggu, yaitu dari tanggal 23-29 Maret 2010, dan dijadwalkan pentas sebanyak 2 kali yaitu hari Sabtu 27 Maret di Gyeonggijeon Special Stage (siang/outdoor) dan di Hanybyuk Theatre (malam/indoor)

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju ini mengambil tema  The Flower of Asia Pacific Intangible Culture Buds in Jeonju. Tema ini kontekstual karena selain diselenggarakan di musim bunga (spring), juga pertama kali diselenggarakan di Jeonju yang tengah mempersiapkan diri menjadi kota pertama yang dikukuhkan PBB sebagai kota warisan budaya dunia. Pemerintah Korea pun tidak main-main, rencana pembangunan untuk mewujudkan itu akan terus berlangsung sampai tahun 2013.

Selanjutnya, Jeonju akan menjadi wilayah PBB di Korea yang berfungsi sebagai etalase untuk memajang dan menampilkan keragaman budaya tradisional dari setiap negara yang akan diundang dalam berbagai event festival. Maka dengan demikian, reputasi Jeonju sebagai kota budaya tradisional dunia, akan tumbuh dan meningkatkan citra pariwisata Korea di dunia International. Dalam data base Asia Pacific Intangible Cultural Heritage yang dikeluarkan oleh Asia Pacific Cultural Centre for Unesco terdapat 15 jenis Seni Pertunjukan tradisi Korea yang tercatat sebagai intangible cultural heritage. Sedangkan Indonesia baru 10 jenis yang sudah tercatat.

Seni Kutiyattam dan Cheoyengmu

Banyak surprise yang dirasakan Tim Wayang Ajen Indonesia saat tiba di Jeonju. Seperti halnya pelayanan panitia festival yang begitu bersahabat. Mereka memang dipersiapkan untuk selalu memunculkan citra positif bagi setiap peserta festival. Wayang Ajen ditempatkan disebuah komplek bangunan tradisional yang disebut Hanok Village. Ini merupakan perkampungan tradisional di Jeonju yang dibentuk oleh kaum cendekiawan sekitar tahun 1930-an. kini jumlahnya hanya 800 bangunan saja. Ruang dan arsitekturnya mirip rumah tradisi Jepang, tidak ada kursi, apalagi tempat tidur besi. Serba ngampar. Yang menarik adalah sistem pemanas ruangan. Tidak seperti bangunan di eropa, pemanas ruangan di Hanok Village disalurkan melalui lantai bangunan.

Demikian pula situasi dan kondisi kota Jeonju yang asri, indah dan bersih, masyarakatnya telah memiliki kesadaran untuk turut mensukseskan program budaya yang dicanangkan oleh pemerintahnya. kota ini juga banyak menyimpan peninggalan bangunan bersejarah yang penting dan tetap terpelihara dengan baik. Sebelum pentas, Tim wayang Ajen yang selalu didampingi oleh Ny.Kim dan Hannah, banyak diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti, Joenju Gaeksa, Istana Gyeonggijeon, Songgwang Temple, dan Poong Nap Moon Gate. Selain itu, kami diajak menikmati berbagai makan khas Korea di restoran yang berbeda-beda.

Tiga hari kami menikmati kota Jeonju. Dan dua malam kami dapat menyaksikan pertunjukan dari Korea, India dan Jepang. satu malam ada dua pertunjukan di Hanybyuk Theatre. Pertunjukan pertama yang kami apresiasi adalah Kutiyattam dari Krala, India. Kesenian ini merupakan teater kuno yang usianya sudah 2000 tahun. Sampai saat ini masih menggunakan bahasa sangsekerta. Mereka tampil dalam lakon Kalyana Saughandikam, ceritanya dan perfomanceya sederhana tentang pertemuan Bima dan, namun sulit untuk ditafsirkan begitu saja. Banyak bahasa gerak, gestur, mimik dan simbol-simbol lainnya yang rumit.

Ada sebuah perbedaan yang ternyata menjadi persamaan. Idealnya tokoh yang ada dalam Ramayana dan Mahabarata merupakan tokoh terpisah. Dua kitab itu dianggap tidak memiliki hubungan yang berkaitan. Jadi, Hanoman yang merupakan tokoh di Ramayana sebetulnya tidak mungkin ketemu atau dicampurkan dengan Bima yang ada dalam Mahabarata. Namun dalam Kutiyattam hal itu terjadi, pun demikian dalam Wayang Ajen, Lakon Dewa Ruci yang dipersiapkan, juga menghadirkan Hanoman dan Bima. Ini juga menjadi diskusi yang menarik antara tim Wayang Ajen dan Group G.N Venu yang memainkan Kutiyattam.

Usai Kutiyattam, giliran Seni Cheoyongmu dari Korea. Seni ini ditetapkan sebagai Important Intangible Cultural Property No.39. Ini juga seni kuno yang menitikberatkan pada tarian penuh simbol. Penarinya 5 orang melambangkan arah mata angin. Konsepnya sama dengan filosofis papat kalima pancer. Menyaksikan 2 pertunjukan klasik itu, nyaris semua penonton menjadi senyap. Ada dua kemungkinan yang membuat pertunjukan menjadi senyap, penontonya tertidur atau memang khusyuk berapresiasi. Yang jelas dua pertunjukan itu memang terasa monoton.

Mengikuti festival ini, bagi Wayang Ajen seperti mengulang catatan lama. Wawan mengisahkan bahwa sebelum Wayang Indonesia dianugrahi sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity tahun 2003, Wayang Ajen banyak berkiprah memperkenalkan seni wayang Indonesia di beberapa negara Eopa. Menurut Wawan, sedikit banyak Wayang Ajen mempunyai andil yang tidak sedikit sehingga Unesco menganugrahi Wayang Indonesia seperti yang disebutkan di atas

Wayang Ajen Indonesia, The Best Performer

Dua pertunjukan Wayang Ajen tanggal 27 Maret dilaksanakan dalam ruang dan waktu berbeda. Siang hari kami tampil di Gyeonggijeon Special Stage. Awalnya kami tidak tahu jika akan pentas siang hari. Ada beberapa kendala yang tidak bisa disiasati. Yang paling prinsip adalah Wayang Tavip tidak mungkin ditampilkan karena wayang pengembangan dari konsep wayang kulit ini mengandalkan effeck bayang-bayang dari lampu yang dirancang khusus. Jadi, harus gelap. Namun untuk memenuhi jadwal akhirnya kami tampil juga. Seketika kami membuat lakon carangan tentang si Cepot belajar memanah. Pertunjukan menjadi komedi sepenunya. Wawan Ajen banyak memainkan bahasa gerak yang lucu. Sesekali dialog menggunakan bahasa Inggris dan Korea, yang sebelumnya kami translate terlebih dulu.

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Pentas Aout door di Gyeongijeon Stage

Penonton yang sebagian besar adalah wartawan, fotografer dan masyarakat pun terpuaskan. Ternyata pertunjukan siang hari ini menjadi semacam publikasi dan informasi bagi masyarakat unutuk menonton pertunjukan sebenarnya. Semua kesenian yang diundang di Festival ini memang juga diagendakan tampil siang hari. Dan itu berdampak besar bagi Wayang Ajen, menurut Lee Yo Han, panitia yang juga mengurus marketing, ternyata tiket untuk Pertunjukan Wayang Ajen sudah habis 1 hari sebelumnya. Bahkan banyak yang waiting list.

Malam harinya, setelah pertunjukan klasik Namsadang Play (Boneka Tradisi Korea), giliran kami unutk tampil. Hanya 10 menit kami diberi kesempatan untuk mempersiapkan panggung. Untung saja, semua peralatan sudah di susun sejak sore hari. Kami tinggal memindah ke areal panggung yang lantainya sudah ditandai untuk setiap itemnya. Sehingga Jagat, janturan wayang, alat musik dan layar Wayang Tavip, semuanya selesai dikerjakan hanya dalam waktu 8 menit.

Pertunjukan pun berjalan dengan baik. Wawan Ajen mampu menunjukan kemampuan terbaiknya. Dalang asal Ciamis peraih 2 kali medali emas dalam festival boneka sedunia di Bangkok dan Hannoi tahun 2004 dan 2008 ini, mampu menjalin komunikasi dengan penonton. Lagi-lagi si Cepot menjadi bintang. Aksinya akhirnya memecahkan kesunyian di Hanybyuk Theatre yang malam-malam sebelumnya terasa senyap oleh berbagai pertunjukan kesenian yang rata-rata tidak memiliki sifat interaktif dengan penonton.

Lebar layarWayang Tavip mampu menjembatani luas ruangan. Wayang Tavip pun memunculkan beberapa jenis wayang Indonesia. seperti Wayang Kulit Jawa dan Wayang Kulit Indramayu. Dua jenis Wayang ini sebetulnya tidak jauh berbeda. Cuma sengaja ditampilkan untuk menunjukan keberagaman seni Wayang Indonesia. Apalagi Wayang Kulit Indramayu keberadaanya nyaris punah. Selayaknya diperkenalkan kembali.

Mau tidak mau ini adalah penyiasatan dari personel yang terbatas. Gending wayangpun hanya dimainkan oleh dua buah kecapi dan satu set kendang. Kendati demikian, Ade Suparman dan Endang Amas bermain maksimal. Dini pun demikan selain menari jaipongan dirinya juga menyanyi. Dan saya, selain menata artistic, juga memainkan perkusi sekaligus menjadi catrik dalang.

Pertunjukan diakhiri dengan indah ketika Sicepot mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Korea berjudul Arirang. Lagu ini adalah lagu penting bagi masyarakat Korea. Akhirnya ruanganpun penuh dengan senandung penonton yang terbeli hatinya. Kami tersenyum puas. Dan semakin puas ketika panitia, berdasarkan animo penonton, menyatakan bahwa Tim Wayang Ajen Indonesia menjadi the best performer. Tanggal 29 kami akhirnya pulang dengan bangga. Sedikitnya nama Indonesia melalui seni Wayangnya akhirnya dikenal luas di Jeonju. Tidak berlebihan, karena bulan September tahun ini, mereka akan mengundang kembali Wayang Ajen Indonesia untuk tampil di Korea.

Tags:
22-March-10

Wayang Ajen Go To South Korea

posted by Wawan Gunawan

Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju City, South Korea

Tags: