Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea
Kuncup Bunga Budaya di Jeonju Korea Selatan
Oleh Pandu Radea
Udara dingin kembali menyergap saat tim Wayang Ajen Keluar dari Bandara Incheon International Korea Selatan. Situasi ini seperti memutar rekaman perjalanan Wayang Ajen saat tampil di Prancis, Desember 2009. Ketika itu, pertama kalinya Wayang Ajen manggung di musim dingin. Dan kendala manggung dengan suhu seperti itu langsung dirasakan oleh Wawan Ajen. Pergelangan tanganya langsung didera rasa pegal dan linu. Hal ini jika dibiarkan tentu akan mengganggu performer dirinya saat memainkan wayang. Bahkan saat di Gannat, Wawan sempat dibawa oleh panitia ke dokter setempat untuk diobati. dan untuk meringankan sakitnya juga di bantu oleh anggota tim lainnya yang bertindak sebagai tukang urut dadakan.
Sebetulnya, saat ini di Korea Selatan memasuki awal spring. Namun tetap saja sisa-sisa udara dingin yang teramat menggigit masih menyelimuti negeri ginseng ini. Sekali lagi perubahan drastis dari suhu jakarta yang berkisar 29 derajat celcius menjadi 5 derajat celcius di Korea membuat tim Wayang Ajen kelabakan. Wawan Ajen pun merasa was-was, takut penyakitnya kumat lagi. Nyeri di persendiannya tergolong sudah akut.
Thomas dan Lee Yo Han sudah menunggu kami di bandara. Mereka berdua adalah panitia yang menjemput tim Wayang Ajen yang diundang tampil dalam Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju Korea Selatan. Ini adalah event prestisius bagi Wayang Ajen, karena dalam festival ini, Wayang Ajen mewakili seni Wayang Indonesia yang sudah dinobatkan oleh Unesco sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity akan tampil bersama warisan budaya dunia takbenda lainnya, yaitu kesenian klasik dari Korea Selatan, India dan Jepang yang juga sudah dikukuhkan oleh PBB.
Tim Wayang Ajen yang berangkat dalam misi budaya ini yaitu Wawan Ajen (Dalang/pimpro), Pandu Radea (Art Director), Tavip Lampung (Dalang Wayang Tavip), Dini Irma Damayanthi (Penari/penyanyi), Ade Suparman (Music Director), Endang Amas (pemusik), dan Gaura Mancacaritadipura (official). Tim akan tinggal selama seminggu, yaitu dari tanggal 23-29 Maret 2010, dan dijadwalkan pentas sebanyak 2 kali yaitu hari Sabtu 27 Maret di Gyeonggijeon Special Stage (siang/outdoor) dan di Hanybyuk Theatre (malam/indoor)
Festival of Asia Pacific Intangible Cultural Heritage 2010 in Jeonju ini mengambil tema The Flower of Asia Pacific Intangible Culture Buds in Jeonju. Tema ini kontekstual karena selain diselenggarakan di musim bunga (spring), juga pertama kali diselenggarakan di Jeonju yang tengah mempersiapkan diri menjadi kota pertama yang dikukuhkan PBB sebagai kota warisan budaya dunia. Pemerintah Korea pun tidak main-main, rencana pembangunan untuk mewujudkan itu akan terus berlangsung sampai tahun 2013.
Selanjutnya, Jeonju akan menjadi wilayah PBB di Korea yang berfungsi sebagai etalase untuk memajang dan menampilkan keragaman budaya tradisional dari setiap negara yang akan diundang dalam berbagai event festival. Maka dengan demikian, reputasi Jeonju sebagai kota budaya tradisional dunia, akan tumbuh dan meningkatkan citra pariwisata Korea di dunia International. Dalam data base Asia Pacific Intangible Cultural Heritage yang dikeluarkan oleh Asia Pacific Cultural Centre for Unesco terdapat 15 jenis Seni Pertunjukan tradisi Korea yang tercatat sebagai intangible cultural heritage. Sedangkan Indonesia baru 10 jenis yang sudah tercatat.
Seni Kutiyattam dan Cheoyengmu
Banyak surprise yang dirasakan Tim Wayang Ajen Indonesia saat tiba di Jeonju. Seperti halnya pelayanan panitia festival yang begitu bersahabat. Mereka memang dipersiapkan untuk selalu memunculkan citra positif bagi setiap peserta festival. Wayang Ajen ditempatkan disebuah komplek bangunan tradisional yang disebut Hanok Village. Ini merupakan perkampungan tradisional di Jeonju yang dibentuk oleh kaum cendekiawan sekitar tahun 1930-an. kini jumlahnya hanya 800 bangunan saja. Ruang dan arsitekturnya mirip rumah tradisi Jepang, tidak ada kursi, apalagi tempat tidur besi. Serba ngampar. Yang menarik adalah sistem pemanas ruangan. Tidak seperti bangunan di eropa, pemanas ruangan di Hanok Village disalurkan melalui lantai bangunan.
Demikian pula situasi dan kondisi kota Jeonju yang asri, indah dan bersih, masyarakatnya telah memiliki kesadaran untuk turut mensukseskan program budaya yang dicanangkan oleh pemerintahnya. kota ini juga banyak menyimpan peninggalan bangunan bersejarah yang penting dan tetap terpelihara dengan baik. Sebelum pentas, Tim wayang Ajen yang selalu didampingi oleh Ny.Kim dan Hannah, banyak diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Seperti, Joenju Gaeksa, Istana Gyeonggijeon, Songgwang Temple, dan Poong Nap Moon Gate. Selain itu, kami diajak menikmati berbagai makan khas Korea di restoran yang berbeda-beda.
Tiga hari kami menikmati kota Jeonju. Dan dua malam kami dapat menyaksikan pertunjukan dari Korea, India dan Jepang. satu malam ada dua pertunjukan di Hanybyuk Theatre. Pertunjukan pertama yang kami apresiasi adalah Kutiyattam dari Krala, India. Kesenian ini merupakan teater kuno yang usianya sudah 2000 tahun. Sampai saat ini masih menggunakan bahasa sangsekerta. Mereka tampil dalam lakon Kalyana Saughandikam, ceritanya dan perfomanceya sederhana tentang pertemuan Bima dan, namun sulit untuk ditafsirkan begitu saja. Banyak bahasa gerak, gestur, mimik dan simbol-simbol lainnya yang rumit.
Ada sebuah perbedaan yang ternyata menjadi persamaan. Idealnya tokoh yang ada dalam Ramayana dan Mahabarata merupakan tokoh terpisah. Dua kitab itu dianggap tidak memiliki hubungan yang berkaitan. Jadi, Hanoman yang merupakan tokoh di Ramayana sebetulnya tidak mungkin ketemu atau dicampurkan dengan Bima yang ada dalam Mahabarata. Namun dalam Kutiyattam hal itu terjadi, pun demikian dalam Wayang Ajen, Lakon Dewa Ruci yang dipersiapkan, juga menghadirkan Hanoman dan Bima. Ini juga menjadi diskusi yang menarik antara tim Wayang Ajen dan Group G.N Venu yang memainkan Kutiyattam.
Usai Kutiyattam, giliran Seni Cheoyongmu dari Korea. Seni ini ditetapkan sebagai Important Intangible Cultural Property No.39. Ini juga seni kuno yang menitikberatkan pada tarian penuh simbol. Penarinya 5 orang melambangkan arah mata angin. Konsepnya sama dengan filosofis papat kalima pancer. Menyaksikan 2 pertunjukan klasik itu, nyaris semua penonton menjadi senyap. Ada dua kemungkinan yang membuat pertunjukan menjadi senyap, penontonya tertidur atau memang khusyuk berapresiasi. Yang jelas dua pertunjukan itu memang terasa monoton.
Mengikuti festival ini, bagi Wayang Ajen seperti mengulang catatan lama. Wawan mengisahkan bahwa sebelum Wayang Indonesia dianugrahi sebagai Wayang Puppet Theatre Indonesia a Masterpice of the Oral and Intangible Heritage Of Humanity tahun 2003, Wayang Ajen banyak berkiprah memperkenalkan seni wayang Indonesia di beberapa negara Eopa. Menurut Wawan, sedikit banyak Wayang Ajen mempunyai andil yang tidak sedikit sehingga Unesco menganugrahi Wayang Indonesia seperti yang disebutkan di atas
Wayang Ajen Indonesia, The Best Performer
Dua pertunjukan Wayang Ajen tanggal 27 Maret dilaksanakan dalam ruang dan waktu berbeda. Siang hari kami tampil di Gyeonggijeon Special Stage. Awalnya kami tidak tahu jika akan pentas siang hari. Ada beberapa kendala yang tidak bisa disiasati. Yang paling prinsip adalah Wayang Tavip tidak mungkin ditampilkan karena wayang pengembangan dari konsep wayang kulit ini mengandalkan effeck bayang-bayang dari lampu yang dirancang khusus. Jadi, harus gelap. Namun untuk memenuhi jadwal akhirnya kami tampil juga. Seketika kami membuat lakon carangan tentang si Cepot belajar memanah. Pertunjukan menjadi komedi sepenunya. Wawan Ajen banyak memainkan bahasa gerak yang lucu. Sesekali dialog menggunakan bahasa Inggris dan Korea, yang sebelumnya kami translate terlebih dulu.
Penonton yang sebagian besar adalah wartawan, fotografer dan masyarakat pun terpuaskan. Ternyata pertunjukan siang hari ini menjadi semacam publikasi dan informasi bagi masyarakat unutuk menonton pertunjukan sebenarnya. Semua kesenian yang diundang di Festival ini memang juga diagendakan tampil siang hari. Dan itu berdampak besar bagi Wayang Ajen, menurut Lee Yo Han, panitia yang juga mengurus marketing, ternyata tiket untuk Pertunjukan Wayang Ajen sudah habis 1 hari sebelumnya. Bahkan banyak yang waiting list.
Malam harinya, setelah pertunjukan klasik Namsadang Play (Boneka Tradisi Korea), giliran kami unutk tampil. Hanya 10 menit kami diberi kesempatan untuk mempersiapkan panggung. Untung saja, semua peralatan sudah di susun sejak sore hari. Kami tinggal memindah ke areal panggung yang lantainya sudah ditandai untuk setiap itemnya. Sehingga Jagat, janturan wayang, alat musik dan layar Wayang Tavip, semuanya selesai dikerjakan hanya dalam waktu 8 menit.
Pertunjukan pun berjalan dengan baik. Wawan Ajen mampu menunjukan kemampuan terbaiknya. Dalang asal Ciamis peraih 2 kali medali emas dalam festival boneka sedunia di Bangkok dan Hannoi tahun 2004 dan 2008 ini, mampu menjalin komunikasi dengan penonton. Lagi-lagi si Cepot menjadi bintang. Aksinya akhirnya memecahkan kesunyian di Hanybyuk Theatre yang malam-malam sebelumnya terasa senyap oleh berbagai pertunjukan kesenian yang rata-rata tidak memiliki sifat interaktif dengan penonton.
Lebar layarWayang Tavip mampu menjembatani luas ruangan. Wayang Tavip pun memunculkan beberapa jenis wayang Indonesia. seperti Wayang Kulit Jawa dan Wayang Kulit Indramayu. Dua jenis Wayang ini sebetulnya tidak jauh berbeda. Cuma sengaja ditampilkan untuk menunjukan keberagaman seni Wayang Indonesia. Apalagi Wayang Kulit Indramayu keberadaanya nyaris punah. Selayaknya diperkenalkan kembali.
Mau tidak mau ini adalah penyiasatan dari personel yang terbatas. Gending wayangpun hanya dimainkan oleh dua buah kecapi dan satu set kendang. Kendati demikian, Ade Suparman dan Endang Amas bermain maksimal. Dini pun demikan selain menari jaipongan dirinya juga menyanyi. Dan saya, selain menata artistic, juga memainkan perkusi sekaligus menjadi catrik dalang.
Pertunjukan diakhiri dengan indah ketika Sicepot mengajak penonton untuk menyanyikan lagu Korea berjudul Arirang. Lagu ini adalah lagu penting bagi masyarakat Korea. Akhirnya ruanganpun penuh dengan senandung penonton yang terbeli hatinya. Kami tersenyum puas. Dan semakin puas ketika panitia, berdasarkan animo penonton, menyatakan bahwa Tim Wayang Ajen Indonesia menjadi the best performer. Tanggal 29 kami akhirnya pulang dengan bangga. Sedikitnya nama Indonesia melalui seni Wayangnya akhirnya dikenal luas di Jeonju. Tidak berlebihan, karena bulan September tahun ini, mereka akan mengundang kembali Wayang Ajen Indonesia untuk tampil di Korea.
CATATAN PANDU RADEA
MUCHAS GRACIAS FRANSISCO BRITO !
Kami sangat berterima kasih sekali kepada Fransisco. Tanpa dirinya, boks perlengkapan akan terlambat kami terima. Kendati Wayang Daun sudah siap di panggungkan, namun tentu saja pentas Wayang Golek dengan proses yang sudah dimatangkan di tanah air akan jauh lebih baik. Misi kami mengenalkan seni wayang di Tenerife akan lebih afdol. Mereka bisa melihat kolaborasi Wayang Golek termasuk Wayang Kulit sebagai idiom khas seni tradisi dan budaya Indonesia yang telah diakui ke adiluhhungannya di dunia International.
Berkali-kali Fransisco mengucapkan kata crazy saat kami menceritakan akan pentas dengan wayang daun jika boks perlengkapan tidak datang. Dirinya begitu terperangah saat kami mendemontrasikan Wayang Daun. Menurutnya, dalam situasi yang genting dan darurat ternyata kami mampu berekspresimen yang hasilnya layak untuk ditampilkan. Inilah kreatifitas seniman di tingkat master, kurang lebih demikian komentar Fransisco yang saya tangkap. Saya hanya nyengir mendengar pujian Fransisco. Dalam benak saya, bikin wayang daun seperti ini anak kecil juga bisa. Dulu, bikin wayang dari daun singkong telah menjadi bagian dari permainan anak-anak di lembur.
Mungkin lain dengan apa yang ada di benak Fransisco. bukan masalah bikin Wayang Daunnya yang memang teramat mudah. Menurutnya, selama menyelenggarakan berbagai even boneka di dunia, baru kali ini dirinya melihat tim kesenian yang mampu mengatasi dan menguasai tekanan situasi dengan menghasilkan karya baru. Karena bagaimanapun juga perlengkapan pertunjukan adalah nyawa bagi setiap grup yang akan tampil. Wayang Daun akhirnya menjadi investasi karya kami selanjutnya. Kepada fransisco kami katakan Wayang Daun tidak akan kami pentaskan, berhubung perlengkapan pertunjukan sudah ada di tangan kami. Walau sedikit menyesal pada akhirnya Fransisco berjanji suatu waktu akan menampilkan Wayang Daun jika kami sudah siap.
Menjelang sore, kami dijamu makan malam di sebuah restoran tradisional di Los Realejos. Tempatnya di pegunungan dengan ketiggian 700 dpl. Sebelumnya kami diperkenalkan kepada Mr. Domingo Bordes, ketua panitia Festival International de Titeres de Canarias yang menyambut kami dengan ramah. Berkali-kali dirinya mengucapkan muchas gracias yang berarti terima kasih banyak. Mengenai bahasa, yang pertama saya ingat adalah kata salida. Tulisan ini banyak ditemukan dimana-mana. Awalnya saya menyangka salida adalah jenis makanan sejenis salad atau sayuran. Ternyata salida berarti keluar. Sehingga ketika pertama kali saya minta salida ke pelayan restoran, hasilnya adalah saya disuruh keluar.
Di Spanyol saat ini adalah musim semi. berbagai bunga liar bermekaran dimana-mana. Betul-betul indah. Inilah salah satu puncak mimpi saya. Pemandangan eropa yang biasanya hanya dapat saya lihat di kalender-kalender, kini terpampang langsung di depan mata. Di tempat ini, kami pun berjumpa dan berkenalan dengan seniman boneka dari Yunani dan Spanyol yaitu Stasis Markopolus (Ayusaya), Marga Carbonell, Miren Larrea dan Gini Tellez. Momen penting ini menjadi pertemuan budaya antara asia dan eropa.
Mereka bertanya banyak tentang Indonesia yang memang kurang dikenal. Hanya 3 tempat di Indonesia saja yang mereka tahu. Domingo hanya tahu Aceh saja karena berita Tsunami beberapa tahun lalu. Marga hanya tahu Papua, dengan suku asmat yang sempat dibacanya di buku archipelago. Sementara Mirren dan Gini hanya mengenal Bali. Mereka semua tidak tahu bahwa tempat-tempat tersebut adalah Indonesia.
Karena keterbatasan bahasa, untuk menjelaskan Bali, saya terpaksa mendemontrasikan tari Bali. Setelah susah payah peperengkelan meniru tari Bali sambil sekali-kali molototkeun mata, mereka akhirnya ingat akan Bali. Bahkan Gini, gadis jangkung ini minta diajari. Ketika Tavip menggambarkan Kalimantan, maka yang diperagakan adalah tarian dayak yang acak kadut. ya, kepada mereka kami jelaskan keragaman seni budaya di Indonesia. dengan keterbatasan, yang ada kami berupaya menggambarkan budaya Indonesia. Sedikit demi sedikit akhirnya mereka mulai faham tentang Indonesia. Apalagi setelah Wawan Ajen membuat peta kasar Indonesia dari perpaduan pizza, beef dan roti kering.
selesai ngobrol tentang Indonesia maka Mirren yang merupakan peñata music di kelompok La Canija mulai bermain musik. Irama latin pun menghentak dari gitar akustik yang dimainkannya dengan energik. Sontak Magda pun tampil menarikan flamenco. Sementara yang lain, bertepuk tangan mengringi irama gitar. Marco yang terlihat pendiam, mulai memainkan harmonicanya. dan Dodong pun menimpalinya dengan suara karinding, dan kloplah sudah, sebuah harmoni yang indah dari persentuhan budaya yang berbeda, mengalun di lereng pegunungan Los Realejos.
Malam yang yang bersuhu 7 derajat C pun dihangatkan suasana ceria. Berikutnya kami diminta tampil kembali. Kali ini mereka meminta kami memainkan lagu khas yang tengah popular di Indonesia. Rupanya mereka sangat penasaran ingin tahu kebudayaan Indonesia. Setengah grogi saya mencoba memainkan gitar dan Dodong Kodir memainkan alat petik sejenis banjo. Mendadak ingatan saya menjadi blank. Hanya satu lagu yang saya ingat, yaitu, Hujan Duit.
Irama dangdut pun terdengar. Wawan Ajen tampil sebagai vokalis dan Tavip yang bersuara silung menjadi penyanyi latar. Berhubung penonton adalah orang asing, mereka sangat menikmati senandung kami yang diangap merdu (atau mungkin pura-pura menikmati). Padahal jika diIndonesia pertunjukan kami ini mungkin diseungseurikeun. Namun peduli amat, yang penting mereka memberi aplaus yang meriah. Lagu berikutnya adalah Bang Toyib. Entah kenapa, saat itu hanya lagu dangdut yang nempel di otak saya. Sialnya lagi, baik Wawan, Dodong, dan Tapiv ternya mengalami juga penyakit limpeuran.
Karena mereka semakin intens, kami pun semakin pe-de. Maka lagu-lagu berikutnya pun mengalir spontan. Akhirnya kami mulai mengingat lagu-lagu lainnya, terutama lagu-lagu daerah seperti Bubuy Bulan, Mojang Priangan, Bungong Jeumpa, Gundul-gundul Pacul dll diperdengarkan secara medley. Suasana semakin hangat saat Wawan Ajeng tampil ngibing, memancing Gina untuk ikut ngarengkenek. Kolaborasi flamenco dan bajidoran yang aheng dan pikaseurieun.
CATATAN PANDU RADEA
Dan satu hal lagi, di Tenarif nyaris tidak ada lampu merah maupun polisi lalu lintas. lampu merah di setiap persimpangan diganti dengan bundaran jalan, istilah spanyolnya adalah rotunda. Pembangunan Infra Strukturnya betul-betul matang dan terencana. Pohon-pohon tua dan bangunan-bangunan lama sangat dilindungi sebagai salah satu asset wisata. Sementara di Indonesia ?
Saat mereka melihat Wawan Ajen memainkan wayang daunditingkahi suara aneh dari alat music dodong kodir, mereka selalu terbengong-bengong. Baru setelah itu tersenyum kemudian memuji. Kami selalu menyebutkan bahwa kami adalah seniman Indonesia yang akan mengikuti festival di Gran Canary. Dan merekapun kembali ber-good-good ria. Sayangnya diantara sekian tamu yang memuji, tidak ada satupun yang berminat untuk membeli wayang daun kerasi dadakan kami ini dengan Euro. Padahal Wayang Daun yang kami bikin adalah karya mahal karena dibuat di Spanyol. (sambung)
Catatan Pandu Radea dari Festival International de Titeres de Canarias
Catatan Pandu Radea (1)
Go To Spain
Spring adalah musim yang indah. Semuanya tampak berwarna warni tatkala bunga-bunga liar bermekaran dan hijau dedaunan menghiasi setiap sudut tanah Eropa. Musim ini adalah musim yang tepat untuk kasmaran. Cerah matahari dan nyanyian beragam unggas mengisi siang yang terasa lebih panjang. Semuanya terlihat serba tersenyum. Pelayan restoran bersenandung kecil menyuguhkan makanan dan minuman terbaiknya, orang-orang tua asyik bernostalgia di taman-taman kota yang teduh, remaja-remaja menampilkan kekenesannya. Terpantul diatas jalan berbatu yang menjerumat gedung-gedung bergaya klasik. Inikah gerangan negeri matador ?
Tak terasa 8 jam lebih terbang di udara. Pesawat Qatar Air bus yang membawa Tim Wayang Ajen betul-betul terasa nyaman. Saya yang menderita penyakit takut ketinggian dan mengalami stress sejak naik pesawat sedikit perlahan lahan mulai melupakan pikiran buruk tentang pesawat terbang yang mogok mesin saat di angkasa. Naïf memang. Namun itulah penyakit yang membuat saya beberapa kali menolak tawaran Wawan Ajen untuk manggung ke luar negri.
Penyakit stress saya yang kedua adalah kegugupan saat pemeriksaan di bandara yang ketat dan berlapis-lapis. Beberapa kali saya merasa kikuk saat alat detector memeriksa seluruh tubuh. Kendati Wawan Ajen sudah mensimulasikan serta memberikan gambaran tentang kondisi tersebut sebelumnya namun tetap saja saya merasa katro. Apalagi saat pramugari cantik berdarah arab menanyakan potogan tiket ke Doha (Qatar) kontan saya panic karena tiket itu tidak ada dalam buku paspor yang selalu saya pegang melebihi jimat. Untungnya potongan itu ditemukan, nyelip di plastic jilid paspor dan sayapun bernafas lega tsetelah gugup selama 15 menit. Tak bisa dibayangkan apa jadinya jika potongan paspor itu betul-betul hilang.
Jam 22.00 WIB tanggal 23 April, Qatar Air bus tinggal landas. Dodong Kodir dan Tavip Lampung tampak menikmati betul perjalanan ke Spanyol kali ini. Bukan tanpa sebab, peralatan pagelaran wayang yang biasanya lebih dari 100 kg, kini hanya 82 kg. tentu saja itu meringankan tim yang hanya berjumlah 4 orang. untungnya lagi bagasi barang pertunjukan ditanggung sampai di Madrid, sehingga tim tidak kerepotan angkat jungjung setiap mau transit.
Pertama transit adalah di Singapura, negeri ini memang layak disebut sebagai Negara maju. Lantai ruang bandara saja seluruhnya dilapisi karpet tebal, motif elegan dan tentu saja mahal. Entah kapan Bandara Soekarno Hatta akan seperti itu. Di Singapura tim masih merasakan suasana Indonesia. Selain ditempuh hanya dengan setengh jam lamanya, bahasa Indonesia masih dipergunakan.
Kami transit di Doha. Dan harus menunggu 7 jam lamanya. Perbedaan waktu Indonesia dan Doha 4 jam lamanya. Selama menunggu, waktu dipergunakan untuk ngobrol ngaler ngidul, ternyata banyak juga orang Indonesia kami temui. Dan hal itu terjadi di ruang berasap alias smoking area. Di tempat itulah secara naluri kami berbincang-bincang. Beberapa bule turut nimbrung karena melihat dandanan kami yang seragam. Kami berdialog terpatah-patah, memahami pertanyaan mereka tentang wayang golek. Ternyata selain yes dan no, bahasa tarzan lebih efektif menjelaskan tentang wayang golek pada mereka.
Berkat bantuan Mr. Candra Tanuwijaya, rekan baru yang kami kenal saat menunggu transit, saya dapat mengirim berita ini dari Doha. Bukannya apa-apa, laptop adu milik kang Wawan Ajen yang selalu diagulkan ternyata tidak dapat mengkap wi-fi yang dipancarkan di ruang Bandara. Entah laptopnya yang salah atau memang saya yang gaptek ? yang jelas, saya harus berusaha untuk terus mengirim berita setiap hari. Jika laptop kang wawan tetap macet, maka pinjam adalah jurus terakhir.
Setelah sukses tampil di Spanyol pada Festival International de Titeres de Canarias yang berlangsung pada bulan April –Mei 2009, Wayang Ajen akan manggung kembali di daratan Eropa, tepatnya di negara asal pesohor bola Zinedine Zidane, Prancis. Tim yang terdiri dari Wawan Ajen Gunawan (sutradara/dalang), Pandu Radea (Artistik & Musik dorector), Dini Irma Damayanthi (Penari Tradisi), Agus Sutandi (Musician) dan Karyana (musician) akan berada di Prancis sejak tanggal 4 sampai 18 Desember 2009.
Pagelaran Wayang Ajen di Prancis ini merupakan undangan khusus dari UNESCO melalui Association Nationale Cultures et Traditions (ANCT) Prancis untuk mengenalkan lebih luas lagi seni wayang Indonesia yang telah dikukuhkan oleh UNESCO dalam program Introducing the Wayang Puppet Puppets Theatre as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage di negara Napoleon Bonaparte itu. Read More/Baca Selengkapnya »
Wayang Ajen Kakufi Part 1 Read More/Baca Selengkapnya »











